Kencan Ganda Di Chocolate Ville

Bicara soal mimpi, kami punya satu yang entah kenapa, sangat yakin suatu hari nanti akan menjadi kenyataan. Itulah indahnya sebuah mimpi. Kita bisa dengan bebas membuat apapun itu, dengan siapapun itu, dan akan menjadi apa mimpi kita. Tapi yang menurut kami lebih ajaib lagi dari mimpi-mimpi itu adalah, sebuah kesempatan. Saat kita bermimpi, Tuhan langsung buka tuh, kesempatan untuk para pemimpi mewujudkan apa yang diinginkan. Dengan janjinya untuk merubah apapun saat kita berusaha dan dengan matanya yang tidak pernah tidur, kita dapat jaminan loh untuk merubah mimpi jadi nyata. Mimpi kami adalah suatu hari nanti bisa menjelajah bersama keluarga kecil (sekarang bersama pasangan, dan bersama anak-anak kami kelak).

Untuk bisa membuat mimpi tersebut menjadi nyata, kita membutuhkan sosok pasangan juga nih. Pasangan yang punya passion yang sama untuk terus menjelajah. Tanpa mempedulikan seperti apa tujuannya nanti. Kami punya satu pasangan yang sudah kami kenal cukup lama. Heri dan Ranystra namanya. Mereka bisa dibilang tinggalnya jauh tapi dekat, dekat tapi jauh. Tinggal di Malaysia, tapi rumahnya di Cibubur (seperti tempat tinggal kami). Itulah artinya dekat tapi jauh, hahaha. Pekerjaan yang mengharuskan mereka meninggalkan Jakarta dan tinggal di Kuala Lumpur. Pasangan dengan hobi yang sama ini sekarang mempunyai anak perempuan yang lucu sekali. Qiandra namanya. Dan mereka bertiga ini juga ikut kami berdua menjelajah kota Bangkok beberapa bulan yang lalu.

Traveller Couple Double Date

Traveller Couple Double Date

Sehari setelah konser Coldplay, yang berhasil membuat salah satu dari teman kami menangis terisak-isak ini (kasihan… sabar ya), saya, si Suami dan si Istri bersama keluarga kecil ini berkesempatan menjelajah kota Bangkok sebelum berpisah keesokkan harinya. Satu destinasi yang menjadi target kami semua adalah Chocolate Ville. Sebuah tempat makan bergaya eropa yang terletak tidak jauh dari kota Bangkok, Thailand. Sudah ready steady go, kami menunggu Heri, Ranys dan si kecil Qiandra di lobby hotel Nasa Vegas. “Jie, sorry ya agak lama, si Qia lagi agak rewel”. Kami pun hanya sibuk mengunyah sarapan kami, karena sepertinya hanya itu kelebihan kami, bekpekberdua. M-E-N-G-U-N-Y-A-H. “Oke her, santai kok, ga buru-buru juga”. Padahal buru-buru sih, hahaha. Becanda her.

Sebelum menuju Chocolate Ville kami sempat mengunjungi Chatuchak Weekend Market. Sebuah pasar tradisional yang tidak pernah sepi. Sepi di hari Senin sampai Jum’at, karena tutup. #Garing ya pasangan ini? Satu tempat di Bangkok yang menjadi tujuan para turis untuk mencari barang-barang kebutuhan atau hanya sekedar memuaskan rasa kalap dalam hati karena harga yang sangat murah, meskipun barang-barang yang dibeli terkadang tidak terlalu berguna juga. Sekitar 2 sampai 4 jam kami berlima berkeliling pasar Chatuchak. Perjalanan dilanjutkan menuju destinasi berikutnya, Chocolate Ville.

Chatuchak Weekend Market

Chatuchak Weekend Market

Dengan lokasinya yang terletak di area Khan Na Yao, kami berlima harus berkendara keluar kota Bangkok. Melalui jalan tol, dan memakan waktu sekitar 1,5 jam untuk menuju tempat yang konon kabarnya cukup terkenal karena beberapa artis-artis dari Indonesia seperti Shireen Sunkar pernah ke sini. Ranys membagi informasi tersebut yang membuat kami berpikir “wah, artis indo ke sini ya, pasti mahal nih makanannya”, cukup anti-mainstream bukan cara pikir kami? Dengan keadaan jalan di Bangkok yang tidak jauh berbeda dengan Jakarta, Sabtu sore di kota ini cukup bisa membuat kamu mati gaya di dalam taksi yang sudah dipesan dengan aplikasi taksi online. Beruntung kami pergi bersama-sama, jadi perjalanan yang cukup jauh tidak begitu terasa.

Sampai di Chocolate Ville, kami masih harus menunggu beberapa menit karena tempat ini buka di sore hari. Pukul 4 sore tiap harinya. Tapi melihat eksterior dan konsep tempat ini dari luar, menunggu beberapa menit justru tidak cukup karena kami terhibur dengan boneka dan patung-patung serta bangunan-bangunan lucu yang ada di area parkir. Qiandra, si kecil, yang baru bangun dari tidurnya mendadak senang saat melihat rumah-rumahan, taman berwarna-warni dan kawanan patung beruang yang berdiri, seolah siap untuk berfoto bersama.

Si kecil Qiandra di Chocolate Ville

Si kecil Qiandra di Chocolate Ville

#bekpekberdua di Chocolate Ville

#bekpekberdua di Chocolate Ville

Chocolate Ville dibuka untuk kali pertamanya pada bulan Desember tahun 2011. Konsep keluarga menjadi daya tarik tempat ini. Para pengunjung baru dapat masuk ke dalam wilayah Chocolate Ville pada pukul 4 sore. Ada alasan kenapa tempat ini tidak buka di pagi maupun siang hari, karena ternyata dari wilayah Khan Na Yao ini kita bisa melihat cahaya matahari terbenam yang cukup cantik.

Waktunya untuk berkeliling Chocolate Ville. Peringatan untuk kamu yang berharap masuk ke dalam tempat ini dan menemukan bangunan-bangunan khas Thailand. Karena tidak satupun nuansa Thailand, dengan temple dan patung-patung yang akan terlihat di sini. Suasana barat sangat kental di sini. Beberapa bangunan bernuansa skandinavia, dengan warna putih yang mendominasi, jembatan-jembatan kecil ala eropa, area makan dengan meja dan kursi yang terbuat dari kayu akan bisa kamu lihat di sini.

Ada sebuah menara, seperti mercusuar (tanpa pantai dan laut tentunya) yang bisa kita naiki untuk melihat seluruh area Chocolate Ville. Menara inipun yang jadi spot favorit para photographer untuk menangkap momen-momen matahari tenggelam. Saya, si Suami mencoba untuk naik ke atas dan melihat ada banyak keluarga yang sudah duduk di area makan, siap untuk menghabiskan akhir pekan mereka bersama orang-orang tersayang

Our adventurous gears

Our adventurous gears

Thailand Rasa Eropa

Thailand Rasa Eropa

Untuk masuk ke dalam Chocolate Ville tidak dikenakan biaya sama sekali. Yeay, GRATIS! Tapi sepertinya pilihan untuk tidak makan kurang pas untuk mereka yang berkunjung ke sini. Dengan wilayahnya yang cukup luas, pengunjung pasti akan merasa lelah dan butuh makanan dan minuman untuk bisa kembali mengisi energi mereka. Dan itulah yang terjadi kepada kami berlima, haha. Cukup lelah. Walaupun menyenangkan sepertinya kami butuh istirahat, hehe. Kami pilih salah satu meja untuk sekedar melepas lelah dan menyantap sedikit panganan dan minuman. Berhubung sudah mendekati pukul enam sore, waktu yang pas nih. Bersantap santai sambil menunggu matahari terbenam perlahan.

Meals before Sunset

Meals before Sunset

Ternyata benar, momen sunset sangat ditunggu di sini. Orang-orang mulai mencari spot terbaik mereka agar bisa menangkap sinar matahari yang berbaur dengan langit sore dengan smartphone atau bahkan kamera profesional mereka. Tidak sedikit dari pengunjung yang berlari menaiki menara berwarna putih untuk mengabadikan momen sang surya tenggelam perlahan. Apa yang kami berlima lakukan? Jelas… ikut berlari ke sana kemari mencari spot sunset.

Si Istri sering bilang, kalau langit dengan cahaya yang cantik itu sering terjadi setelah momen sunset itu sendiri. Kami menunggu sebentar dan, eh, benar lho. Perpaduan antara warna merah jambu, ungu, dan biru membuat langit Thailand sore itu menjadi sangat indah. Ditambah dengan barisan bangunan-bangunan berwarna putih, tidak berasa sedang ada di Thailand. Tapi setelah pramusaji mengucap “Kapunkaa” (yang artinya Terima Kasih), oke, kami masih di Thailand kok.

Menit-menit menjelang Sunset

Menit-menit menjelang Sunset

Sunset di Chocolate Ville

Sunset di Chocolate Ville

Chocolate Ville di Malam Hari

Chocolate Ville di Malam Hari

Dua jam lebih berlalu dan saatnya kami berlima berpisah. Eh, belum ternyata, hehe. Kami berlima masih akan pergi menuju Bangkok bersama-sama, tapi tujuan kami di Bangkok akan berbeda dengan keluarga Heri. Saya, si Suami dan si Istri akan melanjutkan perjalanan menuju kota Cha Am. Sementara Heri, Ranys dan Qiandra kembali ke hotel Nasa Vegas karena besok harus terbang kembali menuju Kuala Lumpur. What a traveler couple day! Semoga nanti bisa dipertemukan lagi dengan pasangan-pasangan traveler yang lain, amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *