Singapore: Jelajah Reliji

Hai! Long time no see ya? Hehe… Maklum dengan segudang rasa malas yang ada, ternyata cukup sulit untuk bisa mempertahankan konsistensi ya. Saya yakin ini berlaku untuk hal apapun, setuju ngga? Saya mau ajak kalian semua untuk naik mesin waktu nih. Siap? Kita akan balik ke sebulan yang lalu, dimana saya dan si istri, memutuskan untuk tetap menjelajah di bulan puasa. Destinasi? Singapore, simple enough!

Salah satu Masjid di Singapura

Salah satu Masjid di Singapura

Terkadang saat kami memutuskan untuk pergi menjelajah, tidak banyak yang menjadi tujuan saya dan si istri saat nanti kami sampai ke tempat tujuan. Bucketlist? Yah, itu nanti datang seiring dengan persiapan kami berdua untuk sebuah trip sih, itu pun juga biasanya datangnya mendadak. Pada dasarnya kami merencanakan ini semua untuk satu tujuan. Yaitu menyatukan semua insan agar mereka… hush ngaco! Intinya cuman satu kok, kami mau pergi berdua, itu saja, ngga lebih ngga kurang.

Travelling saat bulan suci Ramadhan cukup menantang juga. Beberapa orang juga cukup mempertanyakan keputusan kami berdua untuk pergi ke negara tetangga ini, tapi yaa.. kami tetap berangkat juga. Dan ternyata benar, godaan untuk bisa icip sana icip sini cukup besar. Makanan enak bertebaran di mana-mana. Sepengamatan kami, negara ini selalu punya banyak tempat untuk bisa didatangi karena makanan-makanannya yang sangat menggoda. Dengan kewajiban kami menahan haus dan lapar seharian, berarti kami harus sedikit putar otak nih. Apa yang kira-kira bisa kami lakukan di sana selama menunggu bedug maghrib. Setelah pengolahan ide dan proses brainstorming yang cukup singkat antara saya dan si istri, kami memutuskan untuk melihat dan mengunjungi beberapa masjid yang ada di Singapore. Hey, Mosque Hopping! Let’s do it!

Perjalanan kami ke negara yang terkenal dengan patung singa bernama Merlion ini diawali dengan pengalaman yang cukup bikin jantung berdebar-debar. Cerita diawali saat kami mendarat di bandara Changi International Airport. Bandara yang entah kenapa selalu menarik untuk dikunjungi. Oh ngomong-ngomong, bandara ini disebut-sebut sebagai salah satu bandara tersibuk di dunia loh. Saingan dia adalah Dubai International Airport di Uni Emirat Arab.

Changi International Airport

 Changi International Airport

Waktu menunjukkan pukul 11 malam saat kami sampai di Singapura. Dengan mata yang cukup pucat, mengantuk dan siap tidur kami sedikit berkeliling di dalam bandara dan foto-foto sedikit (dasar turis!). Pukul 12 lewat, dan badan sudah cukup lelah meminta waktu untuk beristirahat. Entah kenapa saat itu, kami berdua memutuskan untuk bermalam di area dalam bandara (tidak keluar imigrasi), kami berpikir “ah, gapapa kali ya, toh besok pagi langsung ke hotel untuk early check in”. Nah pengalaman deg-degannya dimulai.

Changi International Airport punya satu area yang cocok digunakan untuk bermalam, tempatnya pun cukup nyaman kalau dibandingkan dengan KLIA di Malaysia. Tapi masalahnya adalah, mereka yang bermalam di sini ternyata adalah orang-orang yang sedang transit untuk melanjutkan perjalanan beberapa jam lagi. Mereka yang tujuan akhirnya adalah Singapura tidak diperbolehkan untuk menginap. Tapi kami… menginap… Saat menuju bagian imigrasi, sebelum turun elevator, kami naik ke satu lantai di mana ada sebuah area makan dengan beberapa counter makanan, seperti Subway, Burger King, dll. Tidak jauh dari area makan tersebut, terlihat ada kumpulan sofa. Empat buah menghadap sebuah meja. Dan ada tiga kumpulan di sana. Tanpa pikir panjang kamipun langsung berjalan menuju area sofa tersebut, menaruh tas dan bawaan kami, dan kemudian merebahkan tubuh untuk mengistirahatkan badan yang sudah cukup lelah.

Pukul dua pagi. Mata saya terbuka, dan tiba-tiba terpikir untuk santap sahur. Dengan pertimbangan takut kebablasan adzan shubuh, jadi saya berpikir untuk sekarang saja sahurnya. Jadi kalau nanti mau lanjut tidur sudah tenang karena sudah sahur. Kami bukalah plastik berisi makanan dari rumah. Bener-bener nih suami istri. Niat bener, sampai bawa-bawa bekal untuk sahur di bandara. Sebenarnya… duh bisa jadi cerita baru lagi nih kalau diceritain kronologisnya. Intinya aja mungkin ya. Intinya itu makanan untuk makan malam yang ternyata porsinya cukup berlebih. Bahkan sangat berlebih, jadi sayang untuk dibuang. Begitu.. Dan hey! Porsi ini pas untuk sahur kami! Hehe… Dua box mie dan nasi goreng, siap untuk disantap. Selamat sahur!

Zzzz…. Setelah sikat gigi, kami lanjut tidur. Si istri menuju mushola untuk melakukan ibadah sholat malam. Selang waktu beberapa menit kemudian, saya melihat ada sekitar enam sampai tujuh orang berpakaian seragam berwarna gelap berjalan menghampiri area sofa. Saya cukup kaget melihat kumpulan orang tersebut. Tiga di antara mereka berpakaian layaknya tentara dan… memegang senjata berwarna hitam dengan gagahnya. Salah satu dari mereka, seorang laki-laki yang membawa semacam catatan tiba-tiba berkata dengan lantang: “Excuse me, everyone! We would like to check on something here! Could you guys wake up for a sec?”. Semua orang terbangun, dan kaget. Saya juga.

Masing-masing orang ditanya satu persatu dan diminta untuk menunjukkan paspor dan tiket pesawat. Mereka yang lolos, bisa kembali tidur (Sudah jelas yang lolos ngga tidur. Mereka mau lihat apa yang terjadi dengan orang lain yang tidur di tempat yang sama tentunya). Waktunya saya untuk diinvestigasi. *musik mendebarkan dimainkan*. “May we see your passport and ticket please sir”, seorang laki-laki berbicara dengan tegas, kali ini yang meminta adalah si seragam tentara dengan senjata yang tergantung di dadanya. Berhasil membuat jantung saya berdebar 10 kali lebih cepat. “Oh, sure sir. Wait a minute”, saya menjawab dengan setengah mati berusaha untuk terlihat tenang. Setelah melihat tiket dan paspor saya, tiga orang investigator terlihat berubah mukanya. “Sir, are you going somewhere in a minute?”, tanya salah satu dari mereka. “No, sir, I just arrived from Jakarta” saya menjawab. “Yes you have sir, like 4 hours ago”, dibalas dengan galaknya. “You can not sleep here sir, you need to go out of the Airport as soon as possible”, sambungnya masih dengan nada galaknya. “Oh sorry sir, we didn’t know that, let me tell my wife. She’s taking pray now”, saya menjelaskan dengan sok tenangnya. Si istri sudah saya beritahu dan digiringlah kami bak bola menuju counter imigrasi. Paspor distempel dan beres sudah masalah. Untuk kasus ini, sebenarnya salah kami juga sih sudah nekad menginap di dalam bandara, tapi yaah cerita seperti kan yang nanti bisa jadi kenangan saat sampai rumah, iya ngga? Hehe.

Saat menjelajah, kami selalu berpikir apa yang bisa membuat perjalanan ini lebih berarti (tsaah, gaya juga bahasanya). Sesuatu yang bisa kami ceritakan nanti. Setidaknya sesuatu yang bisa kami berdua ingat dan bukan hanya datang, menginap, makan, kemudian pulang. Di Singapore Trip kali ini, saya dan si istri pergi mengunjungi beberapa masjid. Untuk sebuah negara kecil yang bukan negara islam, Singapore cukup punya banyak tempat yang ditujukan untuk umat muslim yang ingin melaksanakan ibadah sholat. Ada sekitar 16 masjid, tapi dengan keterbatasan waktu dan juga kami berdua yang sedang berpuasa (plus, cuaca negara tetangga yang cukup panas ini), hanya beberapa saja yang bisa kami kunjungi. Well, that few mosques can also be our singapore’s story, right?

Masjid Sultan, Kampong Glam

Masjid Sultan, Kampong Glam

Masjid pertama yang kami kunjungi adalah Masjid Sultan. Letaknya di daerah Kampong Glam, sebuah area yang cukup terkenal dengan komunitas agama islamnya. Di sini saat bulan puasa, selalu ramai oleh para pedagang yang menjual beraneka ragam makanan untuk berbuka. Pasar makanan dibuka saat siang menjelang sore hari. Saya dan istri sempat berkeliling sebentar di sekitar Masjid Sultan. Beberapa kali kami menelan ludah dan pasrah menatap jam tangan berkali-kali, sadar kalau waktu berbuka masih lama, hiks…

Cukup penasaran dengan masjid yang cukup terkenal di Singapura ini, kami masuk ke dalam bangunan untuk melihat lebih dekat. Setelah melewati pagar masuk, kami membuka sepatu dan sandal di garis batas suci, naik dengan melewati beberapa anak tangga dan langsung terlihat hall masjid yang sangat luas. Campuran warna putih dan kuning yang terlihat dari luar membuat masjid ini terlihat cerah, bahkan dari luar sekalipun. Karpet dalam berwarna merah dan banyak ventilasi udara di atas, kanan dan kiri bangunan membuat tempat ini terasa sejuk meskipun cuaca di luar panas luar biasa. Setelah sholat Dzuhur dan duduk sejenak memandangi bagian dalam masjid, saya melihat seorang wanita yang memakai penutup kepala dari kain, dan pakaian panjang seperti gamis berwarna hitam berdiri di depan pintu masuk masjid, berbicara dengan beberapa turis yang masuk ke dalam masjid untuk melihat-lihat. Wanita asal belanda bernama Catherine tersebut menjelaskan tentang sejarah singkat Masjid ini kepada para turis.

bagian dalam masjid sultan

bagian dalam masjid sultan

Iseng saya sapa dia. Hanya menyapa tidak lebih (apa sih!). “You seem to know a lot about this place, you live in Singapore quite long?”, tanya saya. Entah kenapa untuk membuka percakapan dengan orang asing, khususnya untuk mereka yang (terlihat) non-asians, saya terbiasa langsung ke pokok pembahasan, hehe. Kalimat “Hai, how are you?”, atau “Can I ask you something?” jarang saya lontarkan. Catherine menjawab “Just for a year”. Saya melanjutkan pertanyaan saya, “How could you know much about sultan mosque?”, “I love the building, the place, the people, and everything arounds this mosque”, jelas si Catherine. Waah, hanya butuh asalan sesederhana itu ya untuk seseorang mau mempelajari sesuatu dengan lebih mendalam. Selesai dari destinasi Mosque-Hopping pertama, mari kita meluncur ke Masjid berikutnya.

Dengan menggunakan moda transportasi MRT kami menuju sebuah daerah yang cukup terkenal dengan aneka restoran dan tempat kongkownya. Clarke Quay. Tidak jauh dari sana ada bangunan sederhana yang tidak terlalu besar (berbentuk seperti rumah kecil), yang ternyata adalah Masjid pertama yang dibangun di Singapura. Konon Sir Stamford Raffles, Gubernur-Letnan Hindia Belanda dulu khusus menyediakan lahan untuk didirikannya Masjid ini. Akhirnya pada tahun 1855, Syed Sharif Omar bin Ali Aljunied membangun tempat ibadah umat muslim ini.  Letaknya ada di Keng Cheow Street, dekat dengan Singapore River, salah satu spot pacarannya alay-alay singapura nih, haha.

Masjid Omar Kampung Malaka

Masjid Omar Kampung Malaka

Suasana masjid pertama Singapura ini cukup homy. Seperti sedang beribadah di rumah sendiri. Arsitektur pintu, jendela sampai atapnya sangat sederhana. Kalian pernah melihat rumah-rumah jawa kuno? Nah, kurang lebih seperti itulah penampilan luar dan dalam Masjid Omar Kampung Malaka ini. Beberapa mobil dan motor terlihat di halaman depan. Sementara di luar, terlihat beberapa orang berdiri sambil mengarahkan handphone-nya untuk mengambil gambar Masjid pertama di negara singa ini. Yuk, sekarang kita lanjut lagi ke Masjid berikutnya. Jangan lupa posting dulu dong ke Social Media seperti orang-orang kebanyakan. Tapi… Karena sedikit malas, kami memutuskan untuk nanti saja berhubungan dengan media sosialnya.

Singapura terkenal dengan sale season-nya, mereka yang hobi belanja (asik juga hidupnya, hobinya belanja! Di saat yang lain hobinya main basket, berenang dan nonton film) selalu tidak pernah melewatkan waktu dimana negara ini menjual barang-barang branded dengan harga yang miring (atau setidaknya itulah yang dikatakan di iklan-iklan). Daerah orchard menjadi tujuan utama para penggila shopping dari seluruh dunia (dan dengan dunia, maksudnya saya Indonesia). Pusat perbelanjaan yang terlihat di kanan kiri kita saat berjalan menelusuri daerah orchard terkadang membuat saya dan istri berpikir “Asik juga ya jadi orang kaya, belanjanya ke Singapore”. Ok, kembali fokus ke Mosque-Hopping ya. Jadi kalau mau sholat di orchard, harus kemana?

Tidak jauh dari shopping area, orchard road, ada satu jalan kecil dengan pemandangan gedung perkantoran di kanan dan kiri. Terlihat ada sebuah gedung yang cukup tinggi berwarna hitam, dengan banyak orang yang sedang menitipkan alas kakinya sebelum masuk ke sebuah ruangan. Yang kami lihat masjid ini lebih seperti sebuah hall yang difungsikan untuk keperluan ibadah umat muslim. Dengan beberapa gambar yang menceritakan tentang sejarah islam terpajang di dinding dalam ruangan. Berada di bawah pengawasan Islamic Religious Council of Singapore, tempat ini juga sering dijadikan tempat pembelajaran untuk mereka yang ingin mendalami seluk beluk agama islam. Saat kami berdua ke sana, terlihat beberapa orang sedang sibuk menyiapkan panganan dan tajil untuk berbuka. Dibangun pada tahun 1987, masjid ini cukup mudah diakses dari ramainya kawasan orchard. Jadi kamu yang mungkin sedang berbelanja, bisa sejenak mampir ke Masjid Al-falah, berdoa supaya jangan kalap belanjanya, hehe.

Masjid Al-Falah, Orchard

Masjid Al-Falah, Orchard

bagian dalam masjid al-falah

bagian dalam masjid al-falah

Kita melompat satu hari ya. *JUMP* Karena tidak cukup waktu, kami melanjutkan agenda Mosque-hopping keesokan hari. Kali ini kami mencoba untuk setidaknya bisa mengunjungi tiga sampai empat masjid sebelum pulang kembali ke tanah air. Yang berikutnya adalah masjid yang letaknya tidak jauh dari tempat kami menginap, di kawasan kampong glam. Masjid Malabar. Dengan eksterior bangunan didominasi warna biru gelap, tempat ini dulunya adalah tempat umat muslim yang datang dari sebuah kawasan di selatan kota Kerala, India. Sebutan mereka adalah Malabar. Kami sempat membaca sedikit sejarah tentang masjid ini dan ternyata proses pembangunannya sempat terhenti karena dana yang tidak mencukupi. Lalu kemudian bantuan berupa donasi datang. Tidak hanya dari mereka yang beragama islam namun mereka dari agama lain juga ikut membantu. Indahnya keberagaman ternyata sudah bisa kita lihat di negara kecil ini dari bertahun-tahun yang lalu. Sayangnya… kami tidak sempat untuk melihat lebih detail karena saat kami datang, Masjid sedang ditutup untuk umum.

Masjid Malabar

Masjid Malabar

Cuaca negeri singa ini saat itu cukup panas. Maaf ralat. Panas sekali! Salut untuk para pekerja lapangan yang harus bertarung dengan teriknya matahari. Dua jempol juga untuk mereka yang sedang bekerja menyelesaikan proyek MRT (Akan ada penambahan line yang konon harus selesai pada akhir 2017). Jadi ingat untuk mengirimkan seribu kata semangat untuk mereka yang terlibat dalam pembangunan MRT Jakarta, SEMANGAT KALIAAANN!

Masjid berikutnya! Pernah kami dengar kalimat ini “Kalau belum ke Mustafa Center di Little India, berarti belum ke Singapura”, jadi kami berpikir “Oke, gimana kalau kita cari Masjid di daerah Little India”. Padahal ya, kalau menurut saya dan si istri, belum ke Singapura kalau belum menginjakkan kaki di Changi International Airport, iya ngga sih? Hahaha. Oke, kembali ke Little India. Waktu itu, memang si istri ada yang mau dibeli di Mustafa Center. Oleh-oleh pastinya. Dan kebetulan pula ada sebuah masjid yang letaknya hanya berjarak 5 menit jalan kaki menuju pusat belanja yang konon kabarnya banyak barang-barang murah dan berkualitas di sana (hmm… kenapa menurut kami biasa aja ya hehe… Ngga murah-murah amat gitu). Masjid berikutnya adalah Angullia Mosque. Kalau Malabar punya sejarah yang berhubungan dengan India bagian selatan, Angullia punya India bagian barat yang menjadi bagian dari sejarah pembangunannya. Para pedagang dari India barat datang ke Singapura untuk berdagang. Ada sebuah sebutan untuk para pedagang muslim ini yaitu Angullias. Sebutan itulah yang akhirnya menjadi nama dari Masjid ini. Terletak di Serangon Road, kami mencoba untuk melihat seperti apa bagian dalam dari masjid ini. Dengan arsitektur bangunan yang cukup tua, dominasi warna krem menjadi ciri khas. Mengingatkan kami dengan beberapa kuil yang ada di India. Kalau dibandingkan dengan masjid-masjid lain di Singapura, bisa dibilang luasnya sedang. Tidak sebesar Masjid Sultan, tapi sedikit lebih besar dari masjid Al-falah di orchard road. Masuk ke ruangan sholat, kami melewati pagar berwarna hijau, lalu tangga kecil yang dibuat dari keramik putih, dimana terlihat banyak sandal dan sepatu yang berserakan. Saat kami mengambil air wudlu ada yang cukup unik, sebuah papan bertuliskan “Beware! Shoes Thieves!”, oke, siap! Terima kasih! Kami akan berhati-hati menjaga sepatu kami. Untuk ruangan sholat, meskipun tidak terlalu luas, tapi cukup memadai kok. Kesan kami untuk masjid ini adalah… Very India! Bukan arsitekturnya ya, tapi karena banyak orang Indiaaa.

si istri berpose di Angullia Mosque

si istri berpose di Angullia Mosque

bagian dalam Angullia Mosque

bagian dalam Angullia Mosque

Masjid terakhir yang kami berdua kunjungi adalah gabungan antara tempat ibadah dan juga pemakaman. Lokasinya tidak terlalu berdekatan dengan stasiun MRT tapi bersebelahan dengan pemberhentian bus yang ada di Palmer Road. Haji Muhammad Salleh Mosque. Masjid yang terletak di atas bukit palmer ini juga adalah sebuah makam dari Habib Noh, seorang pemuka agama yang terkenal di Singapore. Habib Noh datang dari semenanjung Malaysia. Setelah masa kependudukan Sir Stamford Raffless, beliau menetap di Singapura selama kurang lebih 30 tahun. Ruangan sholat berada di bagian bawah, sementara lantai atas adalah tempat mendiang Habib Noh dimakamkan. Ada sekitar 49 anak tangga yang harus kita lewati untuk mencapai area pemakaman. Suasana yang terlihat sangat sepi, hampir tidak terlihat orang-orang disekitar. Saat saya dan si istri sampai di tempat, sempat ragu apakah benar ini masjid yang dimaksud atau bangunan lain. Sedikit cerita yang kami tahu dari Masjid ini. Dulu seorang pedagang asal Jakarta, bernama Haji Muhammad Salleh membangun tempat ini agar temannya yang bernama Habib Noh bisa beribadah dengan tenang di sebuah bukit palmer, namun sayangnya, Habib Noh meninggal sebelum keinginannya tercapai.

Haji Muhammad Salleh Mosque

Haji Muhammad Salleh Mosque

Makam Habib Noh

Makam Habib Noh

Mosque-Hopping mungkin terdengar sederhana dan bukanlah tipikal agenda perjalanan yang biasa dilakukan oleh kebanyakan penjelajah. Tapi kadang ya… sesuatu yang sederhana punya banyak cerita di dalamnya loh. Dan cerita apapun yang kita miliki, kadang juga bisa terasa lebih seru dan menyenangkan apabila kita menjalaninya dengan seseorang yang berarti. Ciyeeh, hahaha. Intinya sih, Kalau kata Mario (game Mario Bros tahu kan? Haha)… “Let’s A Go!” aja dulu. Karena tiap perjalanan itu punya cerita. Dan cerita kamu itu tidak akan ada yang bisa menyamakan. Sampai bertemu di petualangan-petualangan sederhana kami berikutnya ya. Salam hangat dari kami, #bekpekberdua

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *