Sindang Barang: Kampung Budaya. Bukan Desa Adat.

Hari libur merupakan waktu dimana kami menjadi sedikit gelisah apabila harus tinggal di rumah. Entah apa yang ada di dalam jiwa dan raga kami berdua, tapi berdiam diri di rumah saat hari libur adalah ide yang kalau bisa dihindari, hahaha… Karena itulah di tanggal merah ini (yang merupakan hari libur pilkada putaran pertama), kami mencari kira-kira destinasi apa yang bisa kita kunjungi dalam waktu yang tidak lebih dari 12 jam ini. Bogor. Ada apa ya di Bogor?

Suasana Kota Bogor (foto dari: rayapos.com)

Suasana Kota Bogor (foto dari: rayapos.com)

Saat travelling, kami berdua memiliki perbedaan akan pilihan tempat yang kami suka. Kalau si istri lebih suka mengunjungi pantai-pantai jernih dengan pasir-pasir halusnya, si suami lebih senang berada di antara kuil-kuil atau bangunan-bangunan bersejarah. Untuk tujuan kali ini, yaitu Bogor, agak sulit sepertinya untuk bisa menemukan dua elemen tersebut (pantai dan kuil), karena itulah kami sepakat untuk pergi mengunjungi sebuah Desa Adat. Setelah beberapa lama mencari informasi, Sindang Barang menjadi pilihan kami.

Kebetulan, beberapa teman dari si istri, ada agenda untuk bisa mengunjungi sebuah desa yang ada di Jabodetabek, untuk survey apakah desa tersebut bisa digunakan untuk kegiatan studi mereka. Jadi bisa rame-rame pergi ke desa tujuan kami. Cuaca di Bogor waktu itu cukup mendung. Bahkan hujan sempat turun selama beberapa menit. Tapi tidak masalah. Kenapa? Karena kami sudah sampai Bogor! Hahaha… tidak mungkin untuk kami kembali ke Jakarta (mungkin mungkin aja sih, tapi ya sudah, let’s go!).

Stasiun Bogor (foto dari: hellobogor.com)

Stasiun Bogor (foto dari: hellobogor.com)

Desa Sindang Barang terletak di sebuah kawasan pedesaan Pasir Eurih. Jaraknya sekitar lima kilometer dari kota Bogor. Untuk kamu yang juga nanti ingin mengunjungi desa ini, ingat-ingat ya kalau nama Sindang Barang ternyata bukan hanya satu di Bogor. Ada satu daerah/jalan, yang juga berlokasi tidak jauh dari pasir eurih yang punya nama yang sama. Jadi kalau kamu akan bertanya kepada warga setempat, pastikan mereka tahu kalau desa adat lah yang kamu maksud.

Perjalanan kami menuju desa sindang barang bisa dibilang gampang gampang (kebetulan) susah. Hah? Kenapa begitu? Gampang karena ternyata daerah desa tersebut dilalui oleh taksi online (Grab, Uber dan GoCar), jadi kamu hanya tinggal memesannya dari smartphone saja. Lalu kenapa kebetulan susah? Karena hujan, saudara-saudara! Hahaha. Dan cukup deras. Kami berdua sempat berteduh sebentar di sebuah rumah desa saat turun dari mobil angkutan umum yang sudah mengantarkan kami dari stasiun bogor.

Suasana pedesaan pasir eurih

Suasana pedesaan pasir eurih

Perjalanan kami lanjutkan dengan berjalan kaki menuju desa adat tersebut. Jalanan waktu itu agak sedikit berlumpur, hasil dari tanah pedesaan yang diguyur air hujan. Melewati beberapa meter jalan setapak yang dikelilingi oleh hutan. Tidak lama, kami melihat sebuah pagar dengan rumah-rumah adat di kejauhan. Tampak seorang bapak-bapak yang lewat dengan membawa sebuah cangkul. Dia tersenyum dan bertanya, “Mau kemana?”. Si Bapak pun menunjukkan kepada kami arah menuju desa yang informasinya baru kami dapatkan beberapa jam sebelum kami berangkat ke Bogor.

Kami masuk melewati sebuah pagar kayu, beberapa langkah kemudian seorang Ibu-ibu memanggil kami dan menanyakan apakah kami sudah membeli tiket masuk. Diantarlah saya dan istri menuju sebuah rumah, tempat dimana tiket dijual. Sambil menunggu beberapa teman dari istri membeli tiket masuk (seharga Rp. 15,000/orang), kami sempatkan untuk bisa berbincang dengan si Ibu yang ternyata adalah marketing dari desa adat ini. Marketing? Iya, jadi ternyata desa ini bukanlah sebuah desa adat dengan warga yang tinggal di dalamnya. Ini adalah sebuah Kampung Budaya. Dimana kita bisa melihat seperti apa bentuk rumah pedesaan yang ada di bogor beberapa tahun silam, pentas-pentas budaya, dan tarian-tarian khas tanah air. Tapi itupun menurut Ibu Ella (Marketing desa sindang barang) kita harus datang di saat yang tepat. Pentas-pentas tersebut punya jadwal tersendiri dan kita tidak bisa request semaunya.

Desa adat atau Kampung budaya, tidak masalah bagi kami. Karena pemandangan serba hijau, segar dan rumah-rumah adat khas sunda yang ada di desa ini membuat perjalanan kami cukup bisa dinikmati. Berjalan sedikit ke tengah kampung budaya ini, terlihat jajaran saung beratap segitiga. Bangunan rumah adat kecil ini digunakan sebagai tempat penyimpanan padi. Kami mencoba untuk melihat lebih dalam lagi, dan terlihat beberapa rumah pesanggrahan. Ternyata kita bisa menginap di sini. Ada paket kelas budaya yang bisa diambil oleh pengunjung. Ada paket pelajaran budaya, dimana pengunjung bisa belajar menari daerah, dan menggunakan alat-alat musik tradisional. Untuk detail paketnya silahkan dihubungi Ibu Ella Rahardjo: 087770302144/081311150014.

#bekpekberdua di Kampung Adat Sindang Barang

#bekpekberdua di Kampung Adat Sindang Barang

Rumah pesanggrahan khas sunda

Rumah pesanggrahan khas sunda

Melihat banyak rumah pesanggrahan, saya dan istri saling memandang. Kemudian jatuh cinta, dan memutuskan untuk menikah. Lah ngaco! Maksudnya terpikir oleh kami kalau suatu hari nanti menginap di sini bisa jadi pilihan yang cukup menyenangkan. Apalagi dengan suasana desa budaya ini yang dikelilingi sawah dan hutan-hutan. Suasana pedesaan sepertinya cocok untuk kita orang-orang kota yang butuh destinasi yang segar dan jauh dari hiruk pikuk perkotaan.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *