Perjalanan Menemukan Dan Ditemukan

Tiba-tiba pingin nulis (sok) serius. Pernah gak kalian terpikir apa yang kalian dapat sekarang itu gak pernah terbayang sebelumnya dan apa yang ada sekarang jauh lebih baik dari harapan?

Saya pernah, dan pada saat saya menulis ini saya sangat bersyukur pernah melalui banyak hal untuk mendapatkannya.

Flashback ke masa-masa dimana saya masih single, masih mencari siapa jodoh saya sebenarnya, saya mencoba membuat standar tidak tertulis akan pria seperti apa yang saya mau. Menurut saya ini hal wajar, karena dalam memutuskan sesuatu kita harus punya parameter apakah kita akan menerima sesuatu tersebut atau tidak, bukan?

Flashback a bit

Flashback a bit

Suatu waktu, saya berhadapan dengan seseorang yang memenuhi kriteria saya. Sayangnya jodoh belum berpihak, namun saat itu saya pernah mencoba bertahan sampai seorang teman bertanya “masih bertahan sama standar yang kamu buat itu, mbak?” | “standar itu buat ngebahagiain siapa sih?”. Saya cuma terdiam, kemudian dengan sedikit menitikkan air mata (yang sebenarnya si teman juga gak lihat karena kita melakukan pembicaraan jarak jauh), “aku  takut”, ucap saya | “kamu cuma gak percaya diri” | “gak percaya diri kalo aku mampu ninggalin?” | “bukan, kamu gak percaya diri kalo kamu layak dicintai”|.

Sejak hari itu saya mulai memikirkan diri saya. Kadang sedikit egois itu memang perlu. Dan saya orang yang cukup percaya ketika kita bisa merelakan sesuatu, sesuatu yang lebih baik pasti datang. Tepat seminggu dari saya menyakinkan hati, seseorang datang. Orang baru? Tentu tidak! Sering kita tidak menyadari bahwa yang peduli justru orang didekat kita.
Waktu berjalan sampai akhirnya dia memberanikan diri menyatakan keseriusannya ke saya. Sampai dititik ini saya merasa telah ditemukan. Ancol, yang dinobatkan sebagai tempat para alay berbagi kasih, menjadi tempat yang cukup bersejarah buat kami. Tapi sunset sore itu sungguh cantik, semacam SEMESKUNG (Semesta Mendukung).. Hahaha, see! Ternyata kami memang alay ;p

It's Worth the Wait

It’s Worth the Wait

Tidak mudah menjalaninya, pasang surut hati datang silih berganti. Lelah, iya pernah hampir sering malah. Akhirnya saya mencoba meyakinkan hati. Saat itu kami berdua hampir putus asa, entah kenapa keyakinan kami berdua seakan menurun. Mungkin ini ujian dua orang yang sedang mencoba serius menjalani hubungan. Banyak yang bilang kalau sholat istikhrah itu harus 3x berturut-turut dan harus ikhlas. Saya mencobanya, walaupun tidak yakin akan keikhlasan saya. Alhamdulillah petunjuk itu datangnya lewat mimpi. Saya percaya ini kekuatan doa, wahai yang Maha membolak-balikkan hati.. terima kasih atas petunjuk yang telah Engkau berikan. Keyakinan saya muncul kembali setelah itu, pada titik ini saya merasa telah menemukan.

Kemudian banyak yang bertanya kepada saya “kapan nikah, Ri?” | “Lo harus tanya donk sama dia, kapan mau nikahnya. Kan lo cewek. Umur lo udah 30 lho?”, dengan nada sedikit mendesak |. Tapi bukan saya namanya kalo mengikuti apa yang orang lain mau. Alih-alih bertanya yang sifatnya mendesak saya melakukan dengan cara sendiri. Kebetulan saat itu menjelang puasa,  saya cuma bilang “Al, ini kan mau puasa. Kita banyak-banyak berdoa ya semoga makin diyakinkan. Semoga segala rencana dimudahkan jalannya”.

Bismillah.....

Bismillah…..

Lagi lagi saya percaya ini kekuatan doa. Setelah lebaran saya diajak nikah!.

Ancol, lagi-lagi di Ancol. Hahaha, dengan maksud merayakan hari jadi kami, eh tak dialah saya malah dilamar \(^___^)/ senyum bahagia.

A Few More Steps Closer

A Few More Steps Closer

Sepertinya Ancol jadi tempat yang berarti untuk kami

Sepertinya Ancol jadi tempat yang berarti untuk kami

Waktu berjalan dengan cepatnya. Dengan persiapan yang cukup kompleks, dan drama yang bikin naik darah, hahaha ternyata benar ya cobaan dan ujian mau nikah itu jauh lebih banyak, kebanyakan dari keluarga sih, hehe. Tapi setelah melalui segala drama, akhirnya ijab kabul itu terucap juga pada tanggal 12 Desember 2016.

bismillah... dan sah!

bismillah… dan sah!

Siapa dia? Retoris sih pertanyaannya ya kan. Intinya dia adalah orang yang bisa meredam ego saya, baik, lemah lembut, suka jalan-jalan dan sangat sayang keluarga. Standar, gimana dengan standar yang pernah saya tetapkan? Tenang, saya tidak menurunkan standar, sedikit penyesuaian memang diperlukan tapi bukan menurunkannya, malah saya dapat lebih “berhasil meredam ego saya untuk banyak hal” alhamdulillah 😉

So the Adventure Begins

So the Adventure Begins

Iya, dia adalah orang yang sudah resmi menjadi suami saya, Rozy Aldilasa. <– Dan si Suami yang ngedit tulisan si Istri senyam senyum sendiri. Cieeh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *