JEPANG: Warna-warni Shirakawa-go

Di bulan November, negara yang terkenal dengan sushi-nya ini bisa dibilang terlihat lebih cantik dibanding bulan-bulan yang lain. Dengan daun-daun warna-warni, Jepang punya daya tarik yang lebih untuk dikunjungi pada musim gugur. Itulah salah satu alasan kenapa kami memutuskan untuk mengunjungi negeri sakura pada musim ini.

Setelah rasa lelah cukup hilang dengan tidur semalam (kenapa “cukup hilang”? karena kami berdua harus bangun pagi karena bus menuju ke salah satu tujuan kami di Jepang berangkat di pagi hari), hari ini kami berdua siap untuk mengunjungi salah satu desa di Jepang yang masuk dalam situs warisan dunia, Shirakawa-go.

Sebagai pasangan yang hobi menjelajah, agak sayang sepertinya kalau kami tidak meluangkan sedikit waktu untuk jalan-jalan pagi, melihat lingkungan sekitar tempat menginap. Jadi dengan jadwal berangkat bus pada pukul 9 pagi, kami (sedikit) mendorong badan dan berkonsentrasi untuk lebih bisa menstabilkan jiwa raga kami… nah mulai aneh penggambarannya nih. Begini, intinya, kami masih mengantuk, dan hasrat untuk melanjutkan tidurpun ada, tapi #bekpekberdua memutuskan untuk “yuk, jalan-jalan pagi cari sarapan di Kanazawa”. Si Istri menepuk-nepuk wajah si Suami agar terbangun. Sementara Si Suami berkali-kali tidak berhenti bertanya “jadi jalan-jalan pagi ngga?”

Jalan Pagi di Kanazawa

Jalan Pagi di Kanazawa

Cuaca di jepang pada bulan November sudah memasuki cuaca yang “sebenernya dingin-nya sih ngga masalah tapi anginnya itu looohh….. BRRRR”. Di pagi hari saja, saat kami berdua berjalan keliling kota Kanazawa, temperatur sekitar menunjukkan angka 10 derajat celcius, dengan tiupan angin pagi yang cukup berhasil bikin menggigil. Keluar hotel, kami berjalan mencari minimart terdekat untuk membeli beberapa makanan untuk perjalanan menuju Shirakawa-go. Ada Lawson dan Seven Eleven yang ternyata jaraknya berdekatan. Tapi Google Maps bilang kalau untuk mencapai kedua convenience store tersebut, kami harus menempuh jarak sekitar 1 km. Sikat! Kami berjalan santai menelusuri blok demi blok yang ada di Kanazawa.

Senang rasanya akhirnya bisa kembali berjalan berdua. Teringat masa-masa bulan madu kurang lebih setahun silam. Bersyukur bahwa hari ini kembali bisa menjelajah bersama di salah satu negara favorit kami. Si Suami dan Si Istri berjalan melewati rumah-rumah dengan eksterior khas jepang dan beberapa pertokoan dan perkantoran yang kalau istilah si Istri bangunan-bangunan yang ada di jepang itu kalau besar ngga sombong, kalau kecil ngga terlalu merana, hahaha. Semua dibuat menjadi sangat padat, seolah apapun muat masuk ke dalam bangunan. Kagum dan senang dengan lingkungan sekitar kota Kanazawa, kamipun tidak lupa untuk mengabadikan. Ada satu hal yang kami suka. Jadi, saat kami berdua berjalan sambil melihat-lihat, ada seorang bapak-bapak, mungkin berusia 50 tahunan, yang memperhatikan tingkah laku kami. Wajahnya sedikit bingung, seolah bertanya-tanya dalam hati: “ini, turis ngapain foto-foto rumah doang sih?”. Tidak lama setelah bingung melihat kami yang asik foto-foto rumah, si Bapak menawarkan dirinya dengan menggunakan bahasa tubuh untuk memfoto kami berdua. Waah, baiknya. Dengan bahasa Jepang yang tentunya kami tidak mengerti, beliau memfoto kami berdua beberapa kali. Arigatou, mister!

Kurang lebih satu jam lamanya kami berkeliling berdua. Kota Kanazawa di pagi hari cukup dingin. Dua lapis baju hangat pun masih sedikit terasa menggigil. Tapi si Suami dan si Istri tetap lanjut mencari minimart terdekat untuk melengkapi perbekalan kami nanti menuju Shirakawa-go. Obrolan sederhana, terkadang remeh yang selalu menjadi favorit kami. Tanpa harus berpikir bahwa perbincangan akan menuju arah yang jelas, kami pun tidak pernah peduli. Karena itulah yang membuat seseorang pantas menjadi teman seumur hidup. Sudah cukup kah jalan-jalan paginya? Sepertinya sih begitu ya. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 7 lewat 45 menit. Walaupun jadwal bus menuju Shirakawa-go ada pada pukul 9. Perjalanan balik ke hotel hanya dengan berbekalkan Google Maps / Waze yang ternyata terkadang tidak selalu bisa akurat, jadi satu faktor utama kami harus gubrak gubruk mengejar bus nantinya.

“Kalau ngga ada masalah, kurang seru nge-tripnya”. Pernah dengar kalimat itu? Ya iya bener juga sih, tapi kalau bisa ngga pakai masalah sepertinya bisa jauh lebih menyenangkan deh, hahaha. Jauh hari sebelum berangkat ke jepang, kami sudah membeli tiket bus dari kota Kanazawa menuju Shirakawa-go. Hanya tiket pergi. Kenapa? Karena yang si Suami lihat dan baca dari internet, tidak akan sesusah itu untuk bisa mendapatkan tiket pulang. Si Suami ngga tahu aja kalau ternyata bulan November adalah satu bulan di mana beberapa tujuan wisata di jepang kebanyakan memerlukan reservasi jauh-jauh hari karena berjuta orang akan menuju tempat yang sama. Alhasil, kami kehabisan tiket pulang balik menuju Kanazawa. Yaaaaah! Lantas bagaimana? Ya ngga mungkin terus ngga jadi berangkat sih. Kami memutuskan untuk tetap Let’s Go! Masalah pulangnya bagaimana, itu dipusingkan nanti saja.

Bus dari kota Kanazawa menuju beberapa tujuan ke luar kota, termasuk Shirakawa-go berangkat dari JR Station Kanazawa. Di depan stasiun kereta JR ini, kamu bisa melihat salah satu icon kota yang konon punya satu taman yang merupakan salah satu dari tiga taman terindah di seluruh jepang. Satu gate besar berwarna merah yang terkenal dengan sebutan Tsuzumi Gate. Kami berdua menunggu di bus stop tempat bus dengan rute Kanazawa – Shirakawa-go berhenti. Jepang yang terkenal dengan ketepatan waktunya ini membuat kami sebisa mungkin meluangkan waktu 15-30 menit sebelum waktu berangkat yang ditentukan. Di dekat tempat pemberhentian bus ada kantor Japan Bus, dimana akhirnya kami mendapatkan satu angin segar soal bagaimana kami pulang nantinya, yang akan kami ceritakan nanti saja, hehe.

Moda transportasi yang ada di Jepang sangatlah nyaman. Dengan kursi empuk dan pastinya kebersihannya yang selalu membuat kami berdoa “semoga Indonesia bisa menyusul, pelan pelan pasti bisa” dengan sedikit keyakinan tersisa di dalam hati. Dari Kanazawa dibutuhkan waktu sekitar dua jam untuk bisa menuju salah satu desa yang cukup terkenal di jepang ini. Tapi dua jam bukan satu waktu yang bisa membuat kami berdua bosan menunggu. Justru jadi satu momen yang ingin kami lakukan lagi. Melewati hutan, lembah, gunung dengan danau hijau yang cantic dan pastinya, berwarna-warni. Sambil menyantap sarapan yang sudah kami siapkan sebelum berangkat, kami tidak berhenti untuk bilang “Wowww! Kereeen! Cantiiiik”, lagi dan lagi, terus menerus, karena memang seindah dan secantik itu. Ada satu perasaan bersyukur yang juga kami sadari, mungkin kalau bukan karena kami berdua yang sudah dipersatukan, hal ini mungkin tidak akan terjadi. Tidak jarang mata kami bertemu sambil mengucap syukur dalam hati dengan kedua tangan saling menggenggam erat satu sama lain. God is that good, right?

Si Istri dan Perjalanan menuju Shirakawago

Si Istri dan Perjalanan menuju Shirakawago

Pemandangan dari dalam Bus

Pemandangan dari dalam Bus

Perjalanan kekaguman kami akhirnya harus berhenti di terminal bus Shirakawa-go. Yeay! Kami sampai! Dan siap untuk menjelajah sisi demi sisi yang ada di salah satu desa warisan dunia ini. Kami ambil beberapa peta dan buku panduan dalam bahasa inggris yang disediakan di terminal. Kami sempatkan bertanya kepada staff yang bertugas di dalam counter terminal, singkat mengenai rute yang harus kami ambil. “It will take you about 3 hours to explore the whole village”, jelas salah satu staf, wanita, bibirnya bertindik, rambutnya berwarna hitam hijau, tapi ramah, dengan senyuman galak-galak oriental (galak tapi tetap adem di hati).

Sebenarnya keberadaan peta di tangan kami berdua ngga terlalu membantu banyak sih, hahaha. Karena pada akhirnya kami hanya berjalan, membebaskan diri, dan menjelajah tiap pelosok desa dengan bermodalkan sedikit panduan dari beberapa papan penunjuk jalan yang tersebar di seluruh bagian desa ini. Pemandangan yang kami lihat benar-benar cantik. Rumah-rumah khas jepang yang sangat khas dengan lantai dan dinding kayunya berwarna cokelat gelap, ditambah dengan pepohonan warna-warni yang mengelilingi rumah, jalan setapak dari satu area desa menuju desa yang lain dengan aliran sungai kecil yang sangat bersih, yang saking bersihnya kami bisa melihat batu terkecil yang ada di dasar air. Sangat cantik dan indah.

Explore Shirakawago dimulai

Explore Shirakawago dimulai

Masih berjalan mengelilingi warna-warni dedaunan dari pohon-pohon Shirakawa-go pada musim gugur, si Suami celingak celinguk mencari di mana angle foto yang cantik untuk bisa diabadikan dengan kameranya. Sementara si Istri berjalan sambil mendapatkan ide untuk mengirim kartu pos yang tiba-tiba menjadi titipan beberapa temannya langsung dari desa ini, setelah melihat ada satu dua rumah yang menjual kartu pos dengan gambar shirakawa-go dan sebuah rumah yang menyediakan jasa pengiriman pos dengan post office box di depannya.

Pukul 2 siang, cuaca saat itu menjadi agak kurang bersahabat, karena mendung yang membuat awan-awan yang tadinya ceria menjadi sedikit muram. Tapi bukan masalah buat kami. Kami beristirahat sebentar di sebuah rumah yang ternyata memang diperuntukkan untuk orang bisa duduk sejenak sebelum kembali menjelajah. Men-transfer beberapa foto dari kamera ke ponsel kami. Dan menunggu hujan sedikit reda. Cukup beruntung hujan yang turun tidak membuat warna-warni pohon-pohon Shirakawa-go menjadi gelap. Cantiknya dedaunan yang ada di sekitar rumah-rumah desa ini sepertinya akan susah dihillangkan hanya dengan rintik air hujan. Thank God! Alhamdulillah…

Menikmati warna-warni Shirakawago berdua

Menikmati warna-warni Shirakawago berdua

Kami kembali berjalan, berkeliling desa yang konon saat musim dingin pemandangannya lebih cantik karena semuanya berwarna putih. Ada satu rumah yang setelah kami amati, pohon-pohonnya punya dedaunan yang warna merah, oranye, dan kuningnya lebih bersinar dari rumah-rumah yang lain (setidaknya itulah asumsi kami karena terpesona dengan bercahayanya warna merah yang terlihat, haha..). Kami berhenti untuk berfoto-foto di sana. Ada seorang jepang, wanita, dan sendirian. A-ha! T.O! Target Operation! Sasaran empuk untuk diminta tolong, hohoho. “Hello, excuse me, will you please take a picture of us?”, sambil menambah beberapa gestur yang menggambarkan kalau kami butuh bantuan kamu untuk memoto kami, hehe. Alhasil si cewek jepang sampai kami minta tolong untuk sedikit duduk di tanah dan merunduk untuk mendapatkan foto suami istri resek yang ingin angle terbaik untuk foto #bekpekberdua -nya. Gomen’nasai, miss.. gomen’nasai…

Pasangan Alay

Pasangan Alay

Mari bernyanyi: Country Roooad

Mari bernyanyi: Country Roooad

Shirakawago di musim gugur

Shirakawago di musim gugur

Agak susah nih untuk kami menentukan mana spot foto terbaik, dengan pemandangan berwarna-warni secantik ini, sepertinya adalah sebuah tindakan yang cukup bijaksana kalau kami ambil beberapa stok foto. Abadikan saja semua dulu, nanti tinggal dipilah-pilih yang mana yang akan di post ke media sosial (dasar belaga milenial, apa-apa di post ke sosmed! Biarin! Wekk!). Oh iya, kami sempat masuk ke salah satu rumah yang ada di Shirakawa-go. Harga tiketnya sih ngga seberapa ya. Sekitar 450YEN, tapi kami terpaksa membeli foto kami berdua berpakaian khas orang jepang yang sudah terpasang dalam frame kertas, karena kami merasa tidak enak sudah difoto dengan kamera profesional dan memakai atribut orang jepang. Harga fotonya? 1500YEN! Mau kesal tapi kalau lihat muka orang jepangnya yang super ramah, hanya bisa sedikit menghela napas dan bilang “yaudah deh, sekali-kali…” sambil ikut tersenyum setengah dengan alis mata sedikit naik melingkar khas orang-orang yang sedang terpaksa melakukan sesuatu. Hahaha.

Kurang lebih tiga sampai empat jam kami berdua berjalan mengelilingi area Shirakawa-go yang berwarna-warni bak pelangi. Pukul 15:30 kami kembali menuju terminal bus. Oh iya, kami masih hutang cerita bagaimana akhirnya kami bisa tenang, tidak lagi pusing memikirkan cara balik menuju Kanazawa ya? Oke, jadi intinya kami terlalu mempercayai forum-forum di dunia maya yang bilang kalau tiket pulang pergi ke/dari Shirakawa-go mudah didapat dan tidak perlu booking jauh-jauh hari, yes, tiket balik ke Kanazawa ludes! Tapi seorang staf yang bertugas di ticket office Kanazawa JR Station memberikan satu solusi yang sebenarnya cukup ribeut, tapi kami berdua memutuskan untuk tidak peduli. Ya daripada ngga bisa pulang! Jadi solusi yang dimaksud adalah kami bisa beli tiket bus menuju Toyama, dan setelah itu dari Toyama kami tinggal naik kereta menuju Kanazawa. Yes! Kamipun menyesuaikan waktu tiba bus di Toyama nanti, dengan jadwal kereta menuju Kanazawa. Oh iya, kami hanya ingin menyampaikan rasa kagum kami akan ketepatan waktu transportasi umum di Jepang. Sangat tepat waktu. Bahkan untuk bus sekalipun. Saat di tiket ditulis bus berangkat pukul 15:45, roda buspun mulai bergerak saat menit ke-44 berganti. Karena itulah di negara ini, semuanya bisa kami tentukan sampai menitnya sekalipun. Ada plus minusnya sih. Plus-nya jadwal kami bisa sangat terencana. Minusnya ini nih, saat kami terlambat, tidak ada alasan untuk moda transportasi apapun menunggu. Bahkan bus pun tidak bisa berhenti di tengah jalan, sekalipun penumpang yang telat tersebut hanya berjarak sepersekian detik dari bergeraknya bus tersebut.

Menuju Terminal Bus Shirakawago

Menuju Terminal Bus Shirakawago

Dua jam perjalanan bus dari Shirakawa-go menuju Toyama, dan satu setengah jam dari Toyama menuju Kanazawa menggunakan kereta. Oke, salah satu bucketlist kami akhirnya tercoret sudah. Shirakawa-go sangat indah. Walaupun banyak yang bilang kalau pemandangannya akan jauh lebih indah saat salju turun, tapi kamipun sudah senang dengan warna-warni yang diperlihatkan oleh salah satu desa warisan dunia atau UNESCO World Heritage ini. Kami istirahat dulu ya, semua. Thanks for reading by the way.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *