Jepang: Karena Khawatir itu tidak perlu

Perjalanan kali ini cukup spesial. Ya sebenarnya sih karena kami berdua sangat mudah untuk dibuat senang, jadi perjalanan apapun akan jadi spesial untuk kami. Mungkin ibarat lezatnya martabak telor, kali ini lebih spesial karena telornya bebek dan ada dua buah. Jepang jadi tujuan kami. Setelah dengan beruntungnya mendapatkan tiket pesawat dengan harga yang cukup bersahabat untuk ukuran maskapai full-service, #bekpekberdua siap untuk menjelajah negeri sakura.

Cukup happy sih kami sampai di Jepang saat musim gugur. Semua terasa cantik. Dengan warna-warni dedaunan yang ada di sini. Tapi ada satu hal yang membuat kami was-was. Isu Deportasi warga Indonesia. Di tahun 2017 ini ternyata banyak oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang memanfaatkan kemudahan Visa Waiver Indonesia untuk masuk ke Jepang tanpa perlu mengurus visa terlebih dahulu. Tidak jarang kami mendengar cerita orang-orang Indonesia yang pada awalnya berniat untuk jalan-jalan, tapi malah “diusir” oleh pihak imigrasi negara sakura ini karena dianggap akan mencari pekerjaan secara illegal.

Japan Rail Pass

Japan Rail Pass

Walaupun begitu, kami memutuskan untuk tetap berangkat. Ya iyalah! Tiket pesawat sudah beli, JR Pass sudah di tangan, ngga mungkin kami batal pergi hanya karena isu deportasi ini. Bismillah and let’s go! Proses rombak itinerary alias rute perjalanan selama kami di Jepang entah sudah keberapa kalinya. Karena saat menjelajah, pasti akan banyak tempat yang ingin kita lihat, bukan? Tapi setelah perdebatan kecil tapi mesra kami berdua, hasil nonton National Geographic dan Discovery Asia, sabda mbah Google, dan beberapa masukan dari teman-teman yang sudah pernah ke Jepang, akhirnya diputuskan kota-kota yang akan kami kunjungi selama di Jepang adalah: Kanazawa, Hiroshima, Kyoto dan Tokyo.

Satu hal yang kami rasakan saat akan bepergian berdua adalah bagaimana seru dan menyenangkannya proses dari awal perencanaan, sampai saat kami telah siap untuk pergi. Ada sedikit perdebatan disana, tapi pada akhirnya kami berkompromi satu sama lain. Bagaimana membuat perjalanan kami berkesan tidak hanya untuk satu orang tapi untuk kepuasan berdua. Ada yang harus dikorbankan, namun tetap ada beberapa bucketlist yang akan kami kejar.

Terbang dengan Japan Airlines

Terbang dengan Japan Airlines

Sampai lah kami di Bandara Internasional Narita di Tokyo, Jepang. Si Istri cukup santai dan senang telah sampai di negeri sakura. Sementara si Suami yang orangnya agak sedikit “Pikiran” alias dikit-dikit dipikir serius, lagi cukup khawatir apakah akan lolos proses imigrasi untuk bisa secara official masuk ke Jepang. Beberapa cerita warga Indonesia yang dideportasi jadi alasan yang cukup untuk membuat kami was-was (lebih ke si Suami sih haha…). Kami berdua mengantre di barisan imigrasi, giliran si Suami untuk menyerahkan paspor. Dibukalah halaman demi halaman, dicarinya lembar dengan visa jepang, dan kemudian dengan nada sedikit ketus, si petugas imigrasi bertanya: “So…”, hati si Suami sudah siap dengan kemungkinan-kemungkinan pertanyaan yang akan dilontarkan, eh taunya dia Cuma bilang “…enjoy Japan”, lembar paspor diberi stempel dan lolos sudah. Si Istri yang sudah sejak awal yakin 1000% kalau semua akan baik-baik saja pun lolos dengan lancarnya. Namun kekhawatiran (sekali lagi yang khawatir sebenarnya si Suami, si Istri…hoaaahm, dia menguap tidak sabar untuk tidur di kereta menuju Tokyo nanti) belum berakhir. Area Custom harus kami lewati terlebih dahulu. Di sini adalah area yang konon dari cerita-cerita deportasi yang sudah beredar, lebih berbahaya. Ada yang ceritanya sampai diminta itinerary lengkap oleh petugas custom, ada yang sampai ditanya bawa uang berapa banyak selama durasi travelling di Jepang, dan masih banyak cerita-cerita yang sukses bikin (si Suami) parno. Tapi alhamdulillah, ngga satupun cerita-cerita deportasi terjadi. Lolos. Mulus. Lancar. Lega. Sekali. Si Suami lebih tepatnya yang lega. Si Istri? Seolah berkata “Kan, kamu sih parnoan”.

Narita International Airport

Narita International Airport

Kelegaan (Si Suami) layak dirayakan. Mari kita… Tidur di Kereta Narita Express menuju Tokyo. Waktu menunjukkan pukul 6 sore waktu jepang. Dibutuhkan waktu sekitar 50 menit untuk menuju kota yang katanya sih ‘never sleep’. Untuk petualangan #bekpekberdua kami di negeri sakura ini akan diawali dengan kota Kanazawa, lanjut dengan Hiroshima, Miyajima, Kyoto dan berakhir minggu depan kembali di Tokyo. Sebelum meluncur dengan kereta cepat (Shinkansen) menuju Kanazawa, perut yang kosong sudah berteriak dengan kerasnya. Minta diisi ASAP! Dengan laparnya tapi tetap senang dan excited, kami membeli bento-bento sederhana untuk nanti kami makan di perjalanan menuju kota pertama pada itinerary kami.

Tiga jam kami berada di dalam kereta cepat menuju kota yang cukup terkenal dengan tamannya yang cantik saat musim gugur. Kanazawa punya satu daya tarik berupa sebuah area taman yang konon satu dari tiga yang tercantik di Jepang saat musim gugur (Autumn). *TRING* pukul 11 malam, kami sampai di Station JR Kanzawa. Cukup takjub sih, untuk sebuah kota yang jauh dari hiruk pikuk seperti Tokyo, Kanazawa masih cukup banyak orang-orang yang lalu lalang.

Tokyo Station yang selalu padat

Tokyo Station yang selalu padat

Kereta Shinkansen Tokyo menuju Kanazawa

Kereta Shinkansen Tokyo menuju Kanazawa

Dinner kami di perjalanan menuju Kanazawa

Dinner kami di perjalanan menuju Kanazawa

Cek di aplikasi yang ada di smartphone… 11 derajat celcius. Oke laah, mirip-mirip kayak di puncak lah ini… TETOT! Salah! Lebih dingin ternyata. Sebenarnya untuk dinginnya sih ngga terlalu mengganggu ya. Anginnya itu wuiihh! Mantab! Hehe. Cuaca dingin ini juga lah yang membuat kami berdua lebih cepat bergerak menuju hotel. Sepertinya pakaian hangat (level puncak pass) kami kurang memberikan kehangatan seperti yang diharapkan. Tidak masalah. Karena tidak sampai 10 menit kami menggeret koper dari stasiun, akhirnya sampai juga ke Hotel yang sudah kami book. Tunggu? Koper? Katanya #bekpekberdua ?? yaaa… bawa bekpek juga lah boss. Tenaang, hehe…

Oka Hotel. Itu lah tempat menginap pertama kami di Jepang. Ada satu alasan kenapa hotel yang terbilang cukup oke ini kami pilih. Dari seribu alasan yang ada, yang paling utama adalah karena… Check In counter-nya buka 24 jam. Sementara beberapa penginapan yang harganya pas, punya kebijakan untuk check in paling telat pukul 8-9 malam. Ada keterpaksaan kah menginap di Oka Hotel ini? 50% iya 50% tidak sih. Karena walaupun sederhana, Hotel ini punya sesuatu yang bisa membuat kami rileks sebelum tertidur pulas. Onseeeen! YES! Jangan berharap akan seperti Hotspring Water kece yang ada di TV ya. Hanya dua buah ruang untuk mandi dengan area untuk berendam air panas. Tapi ornamen dan hiasan khas jepang, pintu dan lantai kayu, membuat kami dengan senangnya berkata “Lumayan lah yaaa”.

Si Istri di Kanazawa

Si Istri di Kanazawa

Jadwal perjalanan kami untuk esok hari adalah pergi menuju Shirakawa-go pada pukul 9 pagi. Tapi lelahnya badan kami setelah tujuh jam terbang dari Jakarta membuat kami berdua memutuskan untuk melepas lelah sebentar dengan berendam di onsen yang ada di dalam Hotel. Fasilitas ini diberikan secara cuma-cuma alias gratis. Walalupun ada satu hal yang membuat kami khawatir tapi sedikit penasaran. Apakah itu? Konsep onsen atau pemandian air panas ala Jepang ini adalah kita telanjang bulat di dalam sana bersama para pengguna onsen lainnya. Bulat dan benar-benar bulat. Mungkin untuk orang lokal ya sudahlah ya. Tapi buat kami nggg…. Kalau harus melihat orang asing telanjang di depan mata agak kurang nyaman iya ngga sih? Hahaha.

Alhasil karena perasaan malu kami lebih besar daripada rasa penasaran kami, jadinya diputuskanlah untuk menunggu saja sampai orang yang sedang berendam di dalam selesai, hehehe. Ah ngga asik! Biarin wekk! Hehe… Untungnya, dua orang di dalam onsen hotel sepertinya sudah cukup lama berendam, jadi tidak lama untuk kami bisa gentian untuk merasakan onsen di malam hari. Dan ada untungnya juga kami memutuskan untuk berendam di jam segini karena tamu hotel yang lain sudah tidur. Jadi kami bisa merasakan nikmatnya air panas tanpa harus merasa tidak nyaman karena harus melihat ‘milik’ orang di depan mata. Kalau seperti ini, sebenarnya ada harapan kalau bisa mandi berdua sih, hohoho… tapi ngga apa-apa lah. Let’s sink ourselves and relax.

Mini Onsen di Oka Hotel Kanazawa

Mini Onsen di Oka Hotel Kanazawa

Hari pertama di Jepang berjalan lancar. Silahkan baca perjalanan kami menuju salah satu desa jepang yang masuk dalam daftar situs warisan dunia menurut UNESCO, yaitu Shirakawa-go. Untuk sekarang ijinkan kami untuk beristirahat sejenak, terlelap berdua dan bersyukur bahwa sejauh ini, semuanya berjalan dengan lancar.

See you around, teman-teman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *