Gunung Batu: Dekat Tapi Tak Mudah Namun Indah

Cibubur. Saya, si Suami sering bertanya-tanya, kenapa begitu kata Cibubur terucap, kata “Jauh banget” –lah yang selalu menjadi balasannya. Ngga sejauh itu kok. Percaya deh. Sebenarnya memang sejauh itu sih, hahaha. Hai, semua. Saya, si Suami sekarang tinggal bersama si Istri di daerah Cibubur. Satu daerah pemukiman yang berkembang sangat cepat. Saking cepatnya daerah ini berkembang, sampai sekarang kamipun masih kurang yakin ada berapa ratus komplek perumahan atau real estate yang ada di Cibubur.

Cibubur (gambar dari: malciputracibubur.com)

Cibubur (gambar dari: malciputracibubur.com)

Satu yang cukup unik untuk warga Cibubur adalah mereka yang letak rumahnya berbeda bisa jadi punya identitas kependudukan yang berbeda juga. Contohnya, kami tinggal di daerah Cileungsi. Dan ini masuk ke dalam wilayah kabupaten Bogor. Kamu pernah mendengar daerah pemukiman Kota Wisata yang terkenal itu? Nah, komplek perumahan yang sudah cukup lama ada di Cibubur tersebut masuk wilayah Gunung Putri. Sementara kalau kamu berkendara ke arah tol jagorawi, akan bisa melewati wilayah Depok, Bekasi dan Jakarta Timur.

Sudah ya, sekilas mengenai Cibubur yang pada akhir tahun 2019 nanti akan diresmikan Trans Studio dan juga LRT. Sekarang kami akan berbagi sedikit cerita mengenai salah satu destinasi alam yang ada di kawasan Cibubur (atau lebih tepatnya tidak jauh dari kawasan Cibubur), Gunung Batu. Berawal dari ketidaksanggupan sepasang suami dan istri yang tidak bisa berdiam diri di rumah saat libur tiba, kami mencari informasi seputar tempat-tempat bernuansa alam yang bisa kami jelajahi di sekitaran Cibubur. Dan ternyata daerah Jonggol, yang hanya berjarak sekitar 1,5 jam perjalanan menggunakan mobil ini, punya banyak wisata alam yang bisa dijelajahi.

Selamat datang di Jonggol, Kabupaten Bogor

Selamat datang di Jonggol, Kabupaten Bogor

Kami merencanakan perjalanan menuju Gunung Batu, yang terletak di daerah Jonggol. Dengan misi santai untuk melihat matahari terbit (sunrise). Yang dimaksud dengan misi santai adalah kami akan kejar sebisanya, tapi kalau ternyata waktu dan cuaca tidak mendukung, ya tidak akan ada rasa penyesalan di dalam hati. Hehehe. Trip sehari ini juga akan terasa lebih ramai karena banyak sepupu dari si Istri yang ikut. Pukul 03:30, dengan mata yang masih merindu akan kehangatan Kasur (padahal si Suami tidur di sofa karena si Istri tidur di Kasur bersama adiknya), kami semua bersiap menuju Gunung Batu

Untuk menuju ke Gunung yang katanya medannya tidak terlalu berat ini, kami harus berkendara menuju sebuah desa bernama Sukaharja. Terletak di daerah Jonggol, tinggi dari gunung yang diapit oleh sawah, sungai dan bukit ini mencapai 875 Mdpl. Dengan kondisi jalan yang tidak bisa dibilang baik, kami melalui jalanan dengan alur yang tidak biasa. Tanjakan yang bergabung dengan berkeloknya alur jalan kami membuat kami sempat berpikir bahwa perjalanan kali ini tidak semudah yang kita kira. Tapi jangan pernah khawatir, karena badai pasti berlalu (apa sih?).

Pukul 05:30, kamipun tiba di pos 1 tempat mobil parkir. Sudah ada beberapa orang yang sudah siap untuk mendaki bersama kelompoknya. Sementara kami bergegas sholat shubuh terlebih dahulu. Minta doa agar dilancarkan perjalanan menuju puncak gunung pastinya. Amin. Semua sudah siap? Ready, get set, go! Kemudian kami berjalan dengan santai. Lah kok malah santai? Iya seperti yang sudah kami ceritakan bahwa melihat matahari terbit bukanlah tujuan utama saya, si Suami dan si Istri datang ke sini. Tapi untuk menikmati indahnya alam ciptaan Tuhan dan betapa senangnya kami mengetahui bahwa ada wisata alam yang terletak tidak jauh dari rumah kami, hohoho.

Pos 1 Gunung Batu, sebelum menanjak

Pos 1 Gunung Batu, sebelum menanjak

Saat orang bilang “Banyak jalan menuju Roma”, ternyata hanya ada satu jalan menuju puncak Gunung Batu ini. Kami, bekpekberdua, bersama adik dari si Istri dan juga para saudara sepupu mulai menelusuri hutan-hutan, sawah, rumah warga desa, dan tidak lupa untuk sedikit berpose, karena malu atau tidak, kalian harus mau mengakui bahwa sesi foto-foto sedikit bisa memberikan energi tambahan untuk kita para travelers saat sedang menjelajah. Iya kan? Ngaku deh! Si Suami dan si Istri sempat beristirahat sebentar sambal mengunyah pisang goreng yang dibeli di warung warga (yang ternyata terletak di pos 2).

Dari sini, medan sudah mulai menanjak. Here comes the real struggle! Untuk 15 menit pertama tanjakan demi tanjakan dapat kami atasi. Tapi memasuki menit ke-16, akan terlihat tali tambang yang tergantung pada batu bagian atas, dan talinya menjulur panjang ke bawah. Peralatan memanjat berupa tali dibutuhkan untuk bisa memanjat melewati bagian ini. Beberapa forum pendaki yang ada di internet mengatakan bahwa walaupun tidak setinggi gunung-gunung pada umumnya, tanjakan yang ada sangat tajam dan curam sekali. Jika bukan orang yang sudah lama malang-melintang di dunia pendakian, sangat dianjurkan untuk memakai bantuan peralatan yang sudah disediakan yaitu tali tambang.

Pemandangan cantik dari atas gunung

Pemandangan cantik dari atas gunung

Medan penuh tali tambang menuju puncak

Medan penuh tali tambang menuju puncak

Medan bertali tambang selama 30 menit

Medan bertali tambang selama 30 menit

Terkadang, kita harus mau melewati derasnya air hujan untuk dapat melihat indahnya warna-warni pelangi. Dan bayaran dari perjuangan menanjak melewati rangkaian bebatuan yang sangat curam adalah pemandangan dari atas Gunung Batu yang sangat indah. Saat inilah kami tidak pernah melewati momen yang ada untuk mengucap terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa. Lukisan karya Tuhan memang yang terbaik. Saya, si Suami dan istri memandang bukit-bukit tinggi, dengan paduan sungai dan sawah yang membuat sinar matahari turun menyinari dan menambah keindahan karya sang Maha Pencipta.

Panorama Puncak Gunung Batu

Panorama Puncak Gunung Batu

Segelas kopi setelah naik gunung

Segelas kopi setelah naik gunung

Perjalanan kali ini mengingatkan kami berdua untuk selalu bersyukur dengan apapun yang sudah diberikan oleh-Nya. Kesehatan dan juga Keluarga. Kamu bisa bayangkan sakit dikala libur. Will be the worst day ever. Sementara Keluarga? kami tidak akan dengan mudah sampai ke sini jika bukan karena bantuan mereka. Adik, dan saudara sepupu dari si Istri. Oh dan tentunya keesokan harinya, Kaki pegal dan badan penuh rasa nyeri otot pun datang menghampiri. It was all worth it. The sore and the pain. Thanks so much, ya Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *