Pulau Sempu: Ganti Rencana Bukan Masalah

Bulan madu identik dengan liburan santai dan leyeh-leyeh. Namun tidak buat kami yang sedari awal sudah merencanakan road trip honeymoon dari Jakarta ke Bali dengan rute Jakarta – Solo – Malang – Bali – Nusa Penida – Bali – Jakarta.

Bawaan kami saat pergi Honeymoon

Bawaan kami saat pergi Honeymoon

Jam 5 pagi hari itu, setelah melakukan perjalanan dengan kereta api selama 7 jam dari Stasiun Solo Balapan tibalah kami di Malang. Sesampainya di Stasiun Malang, kami langsung dijemput oleh supir sekaligus tour guide selama di Malang yang bernama Mas Denis. Demi tidak menghabiskan banyak waktu, Mas Denis langsung  mengantar kami menuju Desa Sendang Biru, desa terakhir sebelum menyeberang ke Pulau Sempu. Sebelum memasuki kawasan Pelabuhan di Desa Sendang Biru, kami singgah di sebuah rumah yang merupakan Pusat Informasi Wisata Pulau Sempu untuk sarapan pagi yang memang sudah menjadi bagian dari paket tour. Nasi goreng yang dibuatkan oleh Ibu pemilik rumah cukup membuat kami siap untuk melanjutkan perjalanan.

Desa Sendang Biru

Desa Sendang Biru

Selesai sarapan kami menitipkan carrier besar mengingat untuk menuju pulau sempu kami masih harus trekking sekitar 2 jam. Sesampainya di Pelabuhan kami menunggu Pak Parman, pendamping trekking, yang sedang menyiapkan peralatan termasuk tenda, iya tenda karena kami berniat untuk menginap di Sempu. Sebelum menyebrang Pak Parman menyodorkan sepatu karet kepada kami “Pake ini aja ya Mba, Mas sayang sepatunya nanti kotor karena lagi agak berlumpur”. Tanpa berpikir panjang kami langsung memakai sepatu karet tersebut.

Perjalanan menyebrang cukup singkat, hanya 15 menit dari Pelabuhan. Pagi itu air masih pasang jadi kapal masih bisa merapat langsung sampai bibir pantai. Perjalanan trekking di mulai dari kami memasuki  semacam lorong sepanjang 50 meter. Tak lama setelah itu mulai terlihat lumpur-lumpur licin di depan mata. Medan trekking masih cukup landai di awal perjalanan, kemudian perjuangan berlanjut lebih sulit ketika mulai banyak tanjakan curam yang dipenuhi lumpur. Alhamdulillah Pak Parman sabar menunggu kita yang tidak punya kemampuan jalan cepat dengan medan seperti itu.

Perjalanan menuju pulau sempu menggunakan perahu kecil

Perjalanan menuju pulau sempu menggunakan perahu kecil

Perjalanan menuju pulau sempu memakan waktu 15 menit

Perjalanan menuju pulau sempu memakan waktu 15 menit

Keseruan muncul ketika kita harus menyeberangi sungai dangkal yang berlumpur. Tantangan terberat ketika berjalan di dalam air dan sepatu tersangkut lumpur, harus benar-benar ditahan dan diangkat agar bisa keluar dari lumpur yang licin. Tantangan belum selesai sampai di sini, mendekati Segara Anakan kami harus berjalan menyusuri jalan setapak dimana jalan licin dengan tebing sebelah kiri dan danau sebelah kanan.  Kurang hati-hati sedikit kemungkinan untuk terpelesat dan jatuh ke Danau cukup tinggi. Untungnya Pak Parman selalu mengingatkan kami untuk tidak terburu-buru. “Yakin saja dalam berjalan, kata Pak Parman”.

Dua puluh menit kemudian tercium bau asin Danau yang terhubung langsung dengan Samudera Hindia, yang menandakan tujuan sudah di depan mata. Setelah 2 jam akhirnya kami sampai juga di Pulau Sempu.  Sebelum mendarat di Pantai kami bertemu beberapa orang yang akan kembali ke Sendang Biru setelah menginap semalam di sini, mereka bercerita bahwa tadi malam hujan dan angin cukup kencang. Mendengar itu saya dan suami hanya bisa berpandang-pandangan dan berharap malam ini kami masih bisa camping.

Trekking menuju segara anakan

Trekking menuju segara anakan

Segara Anakan, danau yang tersembunyi dibalik perbukitan merupakan salah satu pariwisata andalan kota Malang. Walaupun usaha menuju kesini harus melewati medan trekking yang cukup sulit namun terbayar dengan laut danau yang berwarna biru Toska, Pulau Sempu sendiri merupakan Cagar Alam yang konon katanya tidak boleh dimasuki dan sempat ditutup demi kelestarian alam. Namun mengingat tingginya permintaan kunjungan baik hanya sekadar trekking atau camping akhirnya diijinkan untuk dibuka kembali dengan catatan siapaun yang akan memasuki Pulau Sempu harus mendapatkan Ijin dari Pemerintah setempat dan sangat disarankan untuk menggunakan guide lokal. Ijin kami kali ini telah diurusi oleh Pak Parman

Bersama Pak Parman, warga lokal

Bersama Pak Parman, warga lokal

Segara Anakan

Segara Anakan

Sepi! siang itu hanya tinggal kami berdua dan Pak Parman yang ada di Pulau Sempu karena belum ada rombongan lain yang tiba. Berenang dan berjemur adalah hal wajib yang kami lakukan sebelum makan siang dan mendirikan tenda. Angin yang cukup kencang berhembus di siang hari dan sepinya pulau membuat kami ragu untuk bermalam. Tenda belum didirikan, Pak Parman memang berencana menunggu angin reda baru mendirikan tenda.

Tak berapa lama beberapa rombongan tiba, namun dari hasil percakapan tak ada satupun yang bermalam. Kami makin ragu untuk bermalam. Selagi bersantai saya dan suami mencoba untuk berkompromi. Mengingat perjalanan kami masih panjang dan cuaca yang tidak mendukung, akhirnya kami sepakat untuk tidak bermalam di Pulau Sempu dan memutuskan untuk menginap di Sendang Biru.

Segara Anakan itu cantik, setidaknya buat saya (si istri) yang sangat menyukai laut dan pantai. Tipikal pantai pasir putih dengan warna laut toska dan jernih. Cukup bersih untuk ukuran tempat yang sering dipakai untuk camping, ditambah saat itu sedang tidak banyak orang yang datang, jadi berasa private island :p. Danau ini menjadi unik juga karena terhubung dengan Samudera Hindia yang ditandai dengan karang bolong. Tapi hati-hati jika ingin berfoto di bawah karang ini, sangat tidak disarankan lebih tepatnya karena ombak yang cukup tinggi ketika mengenai karang bisa membawa kita ke lautan lepas.

Danau Segara Anakan

Segara Anakan

Saatnya berjemur!

Saatnya berjemur!

Karena kami tidak mau terlalu sore dan gelap di dalam hutan, setelah puas berenang dan berjemur kami memutuskan kembali ke Desa Sendang Biru. Jalan balik menuju Desa melalui jalur yang sama, penuh lumpur dan tanjakan. Dua jam kemudian kami tiba di Dermaga Semut, ternyata air sudah surut jadi kami harus berjalan dulu sekitar 50 meter untuk bisa naik kapal.

Sesampainya di Sendang Biru, kami membersihkan diri di Toilet Umum yang terletak di belakang Masjid. Selesai sholat, kami mencari tau penginapan yang ada di sekitar sini dan ternyata hasil nya nihil. Akhirnya kami berencana untuk tidur di Masjid menunggu untuk besoknya dijemput lagi oleh Mas Denis.

Dermaga Semut, Desa Sendang Biru

Dermaga Semut, Desa Sendang Biru

Bebersih dan istirahat sejenak di masjid setempat

Bebersih dan istirahat sejenak di masjid setempat

Beruntung punya guide yang super baik, sepertinya kasihan melihat kami yang berencana tidur di Masjid, Pak Parman menawari kami untuk menginap di rumahnya. Tanpa tedeng aling-aling kami mengiyakan tawaran Pak Parman. Walaupun gak jadi honeymoon unik dengan camping di Pulau Sempu, tapi ternyata Tuhan memberi kesempatan lebih unik lagi dengan honeymoon mengingap di rumah penduduk. There was always blessing in disguise, ternyata malam itu hujan. Tuhan memang baik.

Note : Tengah malam dibangunin suami terus dikasih kado. Sssst ternyata saya ulang tahun, Alhamdulillah ulang tahun kali ini udah bareng suami. Makasih suami kadonya, makasih udah merealisasikan #bucketlist istrinya untuk ke Pulau Sempu (^___^)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *