Myanmar: Berlari Mengejar Waktu

Saat kita memutuskan untuk pergi ke suatu tempat, terkadang persiapan yang matang harus dilakukan. Bukan agar perjalanan jadi teratur dan lancar-lancar saja ya, karena kalau dari pengalaman kami, tidak ada perjalanan yang benar-benar mulus dan lancar dari awal sampai akhir. Pasti adaaa.. aja kejadian-kejadian tak terduga. Tapi itu kan yang membuat sebuah perjalanan menjadi penuh dengan cerita?

Kami siap menuju destinasi berikutnya

Kami siap menuju destinasi berikutnya

Saat merencanakan perjalanan menuju Bangkok untuk menonton konser Coldplay, kami, dari #bekpekberdua berpikir untuk terbang mengunjungi negara Myanmar. Kenapa negara ini? Saya, si Suami, memang ingin memberikan sedikit hadiah untuk si Istri, yaitu mengunjungi kota Bagan, sebuah kota tua di Myanmar. Jadi kami sempatkanlah untuk bisa berkunjung ke sana. Persiapan kami lakukan, dari beli tiket pesawat (yang promo-promo sajalah, hehe…), sampai dengan mencari informasi mengenai Myanmar.

Untuk menuju kota Bagan, turis diharuskan untuk membeli tiket Bus. Karena tiket pesawat yang kami beli menuju kota Yangon, itu artinya tiket Bus Yangon-Bagan harus dibeli terlebih dahulu. Karena saya sudah pernah mengunjungi Myanmar sebelumnya, saya berpikir bahwa semua sudah beres. Everything is under control. Tapi di sini lah dimulai berdebarnya. Saya tidak mencari tahu terlebih dahulu tentang festival yang akan diadakan di Myanmar. Akan ada Water Festival diselenggarakan di negara ASEAN ini. Lalu apa yang bikin berdebar? Karena semua bus tidak akan beroperasi selama festival air berlangsung. Panik? Tentu tidak. Sedikit sih, tapi saya mencoba mencari-cari informasi lagi mengenai Bus yang sekiranya masih beroperasi di bulan April. Thanks to facebook group Backpacker International, saya mendapatkan kontak orang lokal yang tinggal di Yangon. Orang lokal ini adalah supir taksi lokal yang sempat membantu salah satu anggota facebook group ini saat dia travelling ke Myanmar.

The Old City of Bagan

The Old City of Bagan

Saya langsung kontak si driver. Mister Tin, namanya. Dengan menggunakan aplikasi chatting, LINE. Cukup lega ternyata beliau bisa bantu saya dan istri untuk bisa mendapatkan tiket Bus menuju kota tua Bagan. Konon kabarnya Bus ini adalah satu-satunya (dan terakhir) yang beroperasi di bulan April, mendekati Water Festival di tanggal 13-17 April tiap tahunnya. Tiket bus harus dipesan langsung di kantor busnya (terletak di terminal bus Yangon), karena website booking online non-aktif selama bulan april. Perjalanan menuju kota Bagan…aman! Thanks to Mister Tin. Meskipun kami bisa bilang ini tidak sepenuhnya melegakan.

Trip Bangkok, alhamdulillah selesai dengan sangat menyenangkan. Bismillah kami lanjutkan perjalanan menuju negara 1000 kuil, Myanmar. Pesawat terbang dari Bangkok menuju Kuala Lumpur, dan kemudian terbang menuju Myanmar. Kenapa harus dengan rute seperti itu? Harga lah alasannya, hehe. Nah, ketegangan berikutnya sebentar lagi akan dimulai. Jadi itinerary yang sudah kami buat adalah seperti ini. Pesawat sampai Yangon pukul 7 malam waktu setempat, dengan Bus menuju Bagan yang berangkat pada pukul 9 malam dan jarak bandara – terminal bus membutuhkan waktu sekitar 40 menit, kami anggap semua berjalan sesuai dengan rencana. Tapi kami tidak mempertimbangkan satu kata yang cukup horror untuk mereka yang bepergian sambal mengejar waktu, DELAY.

Bandara Don Mueang, Bangkok

Bandara Don Mueang, Bangkok

Pesawat dari Kuala Lumpur menuju Yangon terpaksa menunda keberangkatannya karena ada kesalahan bagasi dari penumpang dengan tujuan yang berbeda. Kok bisa? Bisa panjang nih kalau kami mau ceritakan detailnya. Fast Forward saja ya. Alhasil kami tiba di Yangon International Airport pada pukul 8 malam. Berdebar deh hati ini, sangat berdebar. Kalau saya, si Suami, lebih mikir sayang aja uangnya. Karena kalau kami terlambat naik Bus, tiket tetap harus kami bayar karena tidak bisa dikembalikan. Lari dengan sepenuh tenaga dari dalam pesawat ke dalam bandara, menunggu dengan wajah gelisah saat ada di antrean imigrasi, belum ditambah hasrat untuk buang air yang entah kenapa datang di saat-saat genting seperti ini (genting? Lebay sih…).

“Hai, Mister Tin”, kami bertemu dengan si driver taksi yang sudah kami kontak sebelumnya melalui aplikasi LINE. Dengan menggunakan Longyi (semacam sarung khas Myanmar), beliau langsung bergegas mengambil mobilnya dan meluncur langsung ke Aung Mingalar Bus Station. Dengan pengetahuan beliau akan jalan-jalan tikus di kota Yangon, yang kalau macet lebih semrawut dari Jakarta, kami sampai di terminal bus pada pukul…. 20:50. YES!

Tiket Bus Bagan Minn Thar

Tiket Bus Bagan Minn Thar

Bagan Minn Thar Bus Office

Bagan Minn Thar Bus Office

Bagian dalam bus Bagan Minn Thar

Bagian dalam bus Bagan Minn Thar

Akhirnya #bekpekberdua sampai di Bagan

Akhirnya #bekpekberdua sampai di Bagan

Ketegangan di perjalanan kami menjelajah Myanmar alhamdulillah telah terlewati. Tuhan masih kasih kesempatan untuk kami bisa mengunjungi kota Bagan. Kami siap meluncur menggunakan bus Bagan Mihn Thar. 10 jam perjalanan akan kami tempuh dari kota Yangon menuju sebuah kota tua yang sempat disebut-sebut sebagai kota dengan 1000 pagoda dan telah terdaftar sebagai warisan peninggalan dunia UNESCO. Terima Kasih bantuannya, ya Allah! Bagan, tunggu kami. #bekpekberdua ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *