Bersama Borobudur Memburu Cahaya Pagi

Hai, semua. #bekpekberdua balik lagi ya, semoga kamu yang sedang membaca blog ini dalam keadaan yang sehat tanpa kekurangan apapun. Sudah bersyukur? Nice! Agak susah sepertinya untuk kita bisa dengan mudah bersyukur akan apa yang sudah kita punya dan jalani sekarang. Pekerjaan yang ngga pernah berhenti? Tetap disyukuri laah, banyak di sana yang masih susah cari kerja lho. Ada satu keinginan kecil yang lagi kamu pikirkan? Karena setahun yang lalu, sebelum kami menikah sempat tuh terpikir untuk bisa menyaksikan matahari terbit di candi Borobudur. Eh, terkabul setelah kami menikah. Alhamdulillah…

Candi Borobudur

Candi Borobudur

Cukup sulit memang untuk mengatur semua kebutuhan hidup, rencana masa depan kami, dan keinginan untuk terus bisa menjelajah (kemanapun itu) setelah kami menikah. Hal apapun harus kami diskusikan terlebih dahulu. Apapun itu dan sesederhana apapun itu. Karena tiap perjalanan yang kami lalui memerlukan dana yang tidak boleh sembarangan untuk digunakan. Tapi… apapun itu sebenarnya bisa disiasati. Pergi dengan menggunakan kereta api adalah salah satu caranya. Dan menginap di hostel pun juga jadi opsi terbaik untuk kami berdua bisa tetap berpetualang.

Berburu sunrise di candi Borobudur adalah salah satu bucketlist kecil kami. Di saat ratusan orang pergi ke candi ini di siang hari dan berburu spot untuk foto dengan ratusan pengunjung lain. Sepertinya menikmati ademnya suasana magelang di pagi hari akan terasa menyenangkan. Dan benar! Dengan tujuan magelang sebagai highlight dari perjalanan #bekpekberdua, kami berangkat dari Jakarta menuju Jogjakarta terlebih dahulu. Si Istri pergi terlebih dahulu karena dia akan mengikuti event Jogja Marathon yang diadakan di candi prambanan. Sementara si Suami menyusul sehari setelahnya karena ada beberapa pekerjaan yang mesti diselesaikan di Jakarta.

Saya, si Suami akhirnya pergi menyusul si Istri setelah semua pekerjaan di Jakarta terselesaikan. Entah kenapa ya, bepergian dengan menggunakan moda transportasi kereta api punya satu sensasi tersendiri. Mungkin karena saya sewaktu kecil pernah diajak oleh ayah naik kereta, dan pengalaman itu entah kenapa terkenang banget sampai sekarang. Berangkat dari stasiun senen pukul 10 malam. Ada drama lagi terjadi. Ojek online melaju pada pukul 9 malam. Perjalanan yang sebenarnya bisa saya tempuh dalam waktu 10 menit saja jadi berubah menegangkan setelah jalanan mendadak macet (ngga tau juga kenapa bisa macet). Sampai stasiun pukul 9 lewat 40, saya berlari tunggang langgang dan kembali diajak olahraga jantungnya karena antrean untuk cetak tiket kereta penuh banget. Namun dengan doa dan keyakinan yang tidak cukup penuh, saya berhasil…. Berhasil masuk ke gate yang berbeda. Duh, untungnya saya bisa masuk gerbong 10 menit sebelum keberangkatan. Waktu di mana para petugas keretapun sudah kembali masuk gerbong, bersiap untuk berangkat.

Perjalanan Jakarta – Jogjakarta memakan waktu sekitar 6-7 jam. Dengan waktu keberangkatan di malam hari, sebuah keputusan yang tepat untuk istirahat. Sebelum tidur, cek gadget dulu, amankan, tutup tas dengan erat, berdoa dan selamat tidur semua.

Kereta Senja Utama Solo sampai di stasiun Jogjakarta (Stasiun Tugu) pada pukul 5 pagi. Badan cukup pegal-pegal karena saya duduk di kelas bisnis (booo…. Sombooong belaguuu….), nah kebiasaan kan, baca sedikit langsung emosi. Hayooo… dikurang-kurangi lah, jangan seperti isi facebook akhir-akhir ini laah. Saya belum selesai menulis lho. Maksud saya, karena saat duduk (yang kebetulan di kelas bisnis) sepertinya posisi tidur sambil duduk saya kurang enak, jadi efeknya ke punggung yang pegal-pegal, gitu loh. Sudah ya kerutan sebal di mukanya dikurangi, hehe. Sholat shubuh kemudian lanjut menuju hostel tempat istri menginap. Sebuah teknologi bernama Google memberi info bahwa jarak stasiun menuju hostel bisa ditempuh dengan berjalan kaki 15 menit saja. Okelah, yuk keliling Jogja di pagi hari.

Kereta berhenti di Stasiun Tugu Jogjakarta

Kereta berhenti di Stasiun Tugu Jogjakarta

Untuk saya, Jogjakarta itu punya satu rasa yang susah untuk dilupakan saat dikunjungi. Atmosfer yang terasa itu loh (apa sih atmosfer atmosfer). Suasana pagi di Jogjakarta sangat menyenangkan. Saya berjalan melewati jalan malioboro yang tidak pernah sepi. Di waktu pagi pun sudah terlihat banyak orang yang mengantre untuk bisa berfoto di depan tanda jalan bertuliskan ‘Malioboro’, warung-warung kecil yang menjual aneka menu sarapan sudah ramai, terlihat juga banyak delman berwarna-warni dengan kudanya yang sedang makan dan si pengemudi yang masih tertidur pulas. Saya berjalan terus sambal melihat tongkat panjang berseliweran di sekitar saya. Iya dong! Apalah arti hidup ini tanpa selfie?

Welcome to Jogjakarta

Welcome to Jogjakarta

Delman Warna-warni di Jalan Malioboro

Delman Warna-warni di Jalan Malioboro

Satu jam kemudian sampailah saya di The Packer Lodge Hostel. Sejam? Yaa berjalan kaki di Jogjakarta kalau hanya mengikuti estimasi waktu yang sudah tercatat  di Google sih ngga akan bisa melihat apa-apa. Nikmati lah detik demi detik, menit demi menit saat kita menjelajah. Hostel kami terletak di jalan dagen, sebuah gang yang ada di jalan malioboro. Terlihat beberapa penginapan di jalan ini, sepertinya memang daerah yang dikhususkan untuk para turis menginap. Masuk ke dalam hostel, lapor sedikit ke staff yang sedang bertugas, ambil kunci yang sudah dititipkan oleh si Istri sebelum dia pergi untuk event Jogja Marathon, langsung menuju kamar dan kembali lanjut…. Tidur.

Untuk cerita kami menjelajah Jogjakarta sebelum pergi menuju Magelang akan kami ulas (investigasiiii kali, ulas!) di postingan kami selanjutnya. Kali ini kami, #bekpekberdua akan langsung lompat ke beberapa jam kemudian. Cring! Selamat datang di Jogjakarta, 12 jam kemudian.

Menuju Magelang, dari Jogjakarta jadi satu cerita yang patut kami bagi karena ternyata…. Bus menuju Magelang sudah tidak ada lagi setelah pukul 8 malam. Bus terakhir (menurut warga setempat) berangkat dari terminal Jombor pada pukul 7 malam tiap harinya. Si Istri berkomentar “harusnya dicari dulu informasinya tadi tadi..”, si Suami dengan muka sedikit malas menanggapinya dengan pertanyaan “Hmm.. naik apa ya ke Magelang?”. Setelah melewati pertimbangan yang berat akhirnya kami tidak menemukan jalan keluar yang lebih solutif dari menggunakan transportasi online. Kami akhirnya meminta bantuan seorang driver taksi online yang sebelumnya sempat mengantar kami berkeliling Jogjakarta, tapi kami siasati dengan meminta beliau sebelumnya untuk mengantar kami ke Magelang dengan harga yang sedikit lebih murah dari yang tercantum di aplikasi transportasi online. Sekarang coba kamu hitung kata ‘online’ yang ada di paragraf ini deh. Ada berapa?

Kalau dari (lagi-lagi) Google, Dari hostel di Jogjakarta menuju guesthouse di Magelang membutuhkan waktu kurang lebih dua jam dengan jarak sekitar 40 km. Tapi itu kata Google. Kalau kata si komo: “Ho ho ho (komo apa santa Klaus?) macet nih! 3,5 jam aja ya”. Jalan menuju Magelang ternyata macet. Untungnya si driver ramah dan mau mengajak ngobrol kami. Waktu yang tepat untuk si Istri tidur dan si Suami (terpaksa) berbincang santai (sambal menahan kantuk) dengan pak supir yang makin lama makin semangat ngajak ngobrolnya.

Pukul 11 malam kami tiba di Cempaka Guesthouse di Magelang. Berbekal Google Maps kami berhasil menemukan lokasi guesthouse yang cukup membingungkan. Selain langit yang sudah gelap karena waktu sudah menunjukkan pukul 23:30, kami harus masuk melewati lapangan dengan hutan kecil tanpa tanda atau petunjuk apapun yang terlihat. Sempat terpikir oleh saya dan si Istri (yang akhirnya bangun dari tidurnya), mungkin kami salah tempat. Tapi memang ternyata kita tidak boleh menilai sesuatu hanya dari luarnya saja. Tapi… susah sih untuk tidak menilai dari luarnya kalau seperti ini, hahaha.

Setelah membayar pak supir Rp. 150,000 dan berpamitan dengan beliau yang langsung pergi kembali menuju Jogjakarta (semangat untuk 2 jam berikutnya ya pak!), kamipun segera check in dan menuju kamar kami dengan muka lega (berpadu dengan lelah, letih tapi tetap bersyukur pastinya). Sambil sedikit bebersih, kami mencoba untuk mencari informasi tentang sunrise di candi Borobudur dengan staff guesthouse yang masih bangun. Mereka terlihat sedikit meragu saat kami bilang bahwa kami berencana untuk melihat sunrise dari hotel manohara. Menurut mereka, dengan keadaan langit yang kurang cerah, agak sayang apabila kami harus mengeluarkan uang sebesar Rp. 350,000/orang hanya untuk bisa sampai di candi Borobudur sebelum pukul 6 pagi. “Langit dan cahaya matahari di Borobudur setelah jam 6 pagi juga cukup indah kok mas”, kata salah satu staff cempaka guesthouse yang matanya terlihat sedikit merah (sudah siap untuk tidur sepertinya). Timbang timbang anakku sayang, kami memutuskan untuk menyimpan Rp. 700,000 kami dan masuk ke candi Borobudur pukul 6 pagi saja.

Setelah tidur cukup nyenyak (si Istri, si Suami agak masih butuh tidur sedikit nih hahaha), kami bersiap-siap untuk menuju candi Borobudur. Waktu di Magelang menunjukkan pukul 5 pagi saat itu. Sebelum tidur kemarin, kami meminta staff guesthouse untuk bisa mengantar menuju gerbang masuk Borobudur. Dengan biaya Rp. 100,000/orang, para staff bersedia mengantar dan menjemput kembali untuk diantar menuju destinasi lainyang ada di Magelang selain candi Borobudur. It’s a good deal! Rp. 200,000 saja, dan sisa dari budget sunrise kami yang awalnya sebesar Rp. 700,000 bisa kami simpan untuk kebutuhan lainnya.

Kami pergi diantar dengan motor oleh pegawai guesthouse, sesampainya di gerbang masuk Borobudur terlihat beberapa turis lokal dan asing yang juga berdiri dengan sabar menunggu petugas membuka pagar pembatas menuju loket dan area candi. Jam 6 pagi, dan pagar pembataspun dibuka. Setelah membayar Rp. 30,000/orang saya dan Istri berjalan menuju area candi. Cukup senang berada di area yang masuk ke dalam salah satu situs UNESCO ini di pagi hari. Selain udara yang masih segar dan tidak panas sama sekali, belum terlalu banyak terlihat wisatawan yang memenuhi tiap sudut candi. Dan tentunya pemandangan matahari yang perlahan naik ke permukaan membuat tempat ini terasa lebih indah di pagi hari.

Borobudur di pagi hari

Borobudur di pagi hari

#bekpekberdua di Borobudur

#bekpekberdua di Borobudur

Borobudur facing Merapi Mountain

Borobudur facing Merapi Mountain

Sunrise at Borobudur

Sunrise at Borobudur

Saya, si Suami dan si Istri berkeliling dari sisi ke sisi candi Borobudur sambal kembali bersyukur. Satu demi satu apa yang kami inginkan dalam buku perjalanan #bekpekberdua akhirnya tercapai. Kami berfoto dengan berlatarbelakang gunung merapi sambil menghirup udara pagi yang segar. Perjalanan yang penuh perdebatan pada awalnya, keraguan sebelumnya, berhasil kami jalani dengan ucapan “Bismillah”. Untuk sebuah langkah keluar dari tempat tinggal kami, memang penuh tanda tanya. Tapi syukurnya bisa terjawab dengan sebuah perencanaan yang matang. Selamat bersyukur kawan. Tunggu rejeki berikutnya karena kamu tidak akan pernah tahu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *