Bagan dan Negara ASEAN ke-8

Kebanyakan pejalan punya mimpi yang ingin dicapai, negara yang ingin dikunjungi, dan destinasi impian. Termasuk saya, si Istri yang punya keinginan untuk menjelajahi sepuluh negara ASEAN. Ketika berkesempatan ke Bangkok demi nonton konser Coldplay, si Suami beride untuk kita pergi ke Myanmar, negara yang akan menjadi negara ASEAN saya ke-delepan yang (akan) sudah saya kunjungi. Langsung saya lihat kalender dan ternyata ada tanggal libur yang kami pakai tanpa harus cuti panjang. Akhirnya saya meng-iyakan ajakan si Suami dan mengajukan cuti (well, padahal ujung-ujungnya cuti enam hari juga sih.. Hahaha).

Mendengar kata Myanmar yang ada dibayangan saya adalah dua kota ini, Bagan dan Mandalay, sayangnya karena keterbatasan waktu kami harus memilih satu kota, dan saya pilih Bagan. Kenapa? Karena salah satu kota tua yang unik dengan ribuan candi di dalamnya. Asal kamu tahu ya, persiapan kami untuk pergi menuju Bagan penuh drama (ngga sebegitunya juga sih sebenarnya, tapi kan biar kesannya penuh perjuangan, haha), karena kami tidak mempertimbangkan water festival (Thing Yin water festival) yang ternyata juga diadakan di Myanmar (Selain Thailand dan juga Laos), Kurang lebih seminggu dari tanggal festival, kota-kota besar di Myanmar bisa dikatakan semacam shut down. Banyak bus yang tidak beroperasi dan beberapa tempat banyak  yang tutup, karena ikut merayakan festival yang diadakan tiap bulan April tersebut.

Bendera Myanmar

Bendera Myanmar

Dengan segala usaha, darah dan air mata (lagi-lagi ini dilebih-lebihkan, usahanya sambil gebuk-gebuk mesra di Kasur kok) si Suami mencari berbagai informasi salah satunya dengan menghubungi komunitas backpacker dunia yang ada di Facebook. Setelah beberapa hari, alhamdulillah kami mendapatkan bantuan berupa seorang supir lokal dari kota Yangon yang bisa dan mau membantu kami membelikan tiket bus karena untuk bulan April ini, tiket hanya bisa dibeli langsung di kantor masing-masing operator bus, tidak bisa dibeli online.

Bagan Minn Thar Bus Office

Bagan Minn Thar Bus Office

Tiket Bus Bagan Minn Thar

Tiket Bus Bagan Minn Thar

Terjadilah drama berikutnya,  dimana waktu pesawat mendarat di Bandara Internasional Yangon sangat berdekatan dengan waktu keberangkatan bus dari Yangon menuju Bagan. Harusnya sih kami tiba di kota Yangon pukul 7 malam, dengan jadwal bus ke Bagan pukul 9 malam, seharusnya cukup untuk bisa sampai di terminal tepat waktu. Tapiiii……saat itu pesawat kami delay! Hahahaha. Deg-degan campur pasrah. Tiba di Yangon International Airport, kami lari-lari ketemu pak supir, Mr. Thin. Dengan melewati jalan tikus dan demi mencari jalan yang ngga terlalu macet,  akhirnya kita tiba di Aung Mingalar Bus Station pukul 8.50 malam.

Dengan wajah gembira karena sampai tepat waktu, kami siap untuk….tidur! Capek loh, berpacu dengan waktu di negara orang. Perjalanan akan memakan waktu 10-11 jam. Kami berangkat dari Yangon pukul 9 malam dan sampai di kota Bagan pukul 8 pagi keesokan harinya. Sesampainya di kota Bagan, kami tidak menyiakan waktu semenit pun (lebih karena tidak mau rugi sih), meluncur menuju hotel, mandi dan istirahat sebentar, lalu kami siap untuk menjelajah the old city of Bagan.

Bagian dalam bus Bagan Minn Thar

Bagian dalam bus Bagan Minn Thar

Hotel Yadanarbon, New Bagan

Hotel Yadanarbon, New Bagan

Dengan berbekal peta dari hotel dan sebuah sepada motor elektrik yang kami sewa dengan harga 8 USD untuk 8 jam, kami mulai meng-eksplor Bagan dimulai dengan sebuah pagoda bernama Dhammayangyi. Pagoda ini merupakan salah satu yang cukup besar dan masih terlihat bagus, walaupun masih sedikit ditemukan kerusakan. FYI, Kurang lebih satu tahun yang lalu, pada tahun 2016, kota ini mengalami musibah bencara berupa gempa bumi. Dan kerusakan yang ditimbulkan cukup membuat beberapa pagoda yang ada di kota ini hampir tidak dapat dikenali. Kami berkeliling melihat-lihat detail demi detail yang ada di pagoda ini.

Kurang lebih satu jam sudah kami habiskan di spot pertama ini. Tidak terasa sudah menjelang tengah hari, wah, kami sudah mulai lapar. Berjalan keluar dari pagoda, terlihat beberapa penjual yang mendagangkan makanan dan minuman. Serbuuu! Mereka menjual makanan khas Myanmar, makanannya terlihat seperti soto dan minuman yang kami pesan seperti cendol. Si Suami dengan kepo-nya bertanya “what is this food called?”, dan pastinya dijawab oleh mereka dengan: “ဒီအကောင်းတစ်ဦးအစားအစာနှင့်သောက်ဖြစ်ပါသည်”  , hmmm, okelah! Makan saja kalau begitu. Melihat makanan dan minuman di sebuah tempat yang sangat panas seperti Bagan itu kalau mau diibaratkan, semacam menemukan oasis di gurun sahara, haha. Kami pesan dna santaplah makanan-makanan tersebut. Yaaah, itung-itung, berbaur dengan lokal kan?

Dhammayangyi Pagoda

Dhammayangyi Pagoda

Makan siang kami di Bagan

Makan siang kami di Bagan

Amunisi di dalam perut sudah terisi. Waktunya kami untuk kembali melihat peta dan menuju spot berikutnya, kami meluncur ke Thuntakan Village, salah satu desa di Bagan, dimana penduduk lokal tinggal. Celingak-celinguk dan sedikit hilang arah, tiba-tiba seorang nenek memanggil kami berdua. Dengan menggunakan bahasa tubuh, si Nenek menyuruh kita mampir ke rumahnya. Awalnya kami ragu, tapi melihat si Nenek yang nampaknya tulus akhirnya kami bersandang ke rumah nya (tipikal yang mudah dirayu nih kita, haha…). Cara kami berkomunikasi dengan mereka terbatas hanya menggunakan bahasa tubuh, seru tapi cukup lama untuk kami semua bisa saling mengerti (memang dibutuhkan komitmen agar masing-masing pihak dapat mengerti apa yang dimau. Apa coba?). Tapi di tengah perbedaan bahasa antara kami dan mereka, si Nenek sedikit paham kalo kami mencari Thanaka. Iya Thanaka merupakan kosmetik alami dari kulit kayu yang digunakan oleh hampir semua wanita Myanmar. Menggunakan Thanaka layaknya menggunakan bedak, namun orang Burma sering menggunakan nya dengan membuat simbol di wajah mereka atau terkadang membentuk gambar-gambar yang bisa dibilang random. Celemotan kalo kata orang Indonesia, tapi justru di sini letak ciri khasnya. Si Nenek masuk sebentar ke dalam rumahnya yang berbentuk gubug kecil, dengan beralaskan tanah, dan beberapa foto keluarga yang tergantung di dinding bambu rumah mereka. Kemudian keluar dengan membawa peralatan dapur semacam cobek dan alas uleknya, sebuah kayu, dan sedikit air. Si Nenek langsung mengulak kulit kayunya sampai menyerupai bubuk kental, setelah itu beliau mengolesi Thanaka tersebut di wajah saya dan Suami.

Dandan ala Myanmar

Dandan ala Myanmar

Wefie dengan thanaka di muka

Wefie dengan thanaka di muka

Ketika berinteraksi dengan penduduk lokal, kendala utama memang ada di bahasa. Namun gestur, atau bahasa tubuh selalu dapat kita gunakan sebagai  bahasa universal yang bisa dimengerti oleh banyak orang. Jadi ketika mereka tidak berbicara bahasa inggris, tidak membuat kami tidak mau berinteraksi. Disinilah nikmat dan ceritanya sebuah perjalanan.

Lanjut? Oke! Bagan masih terlalu luas untuk kita sudahi hanya dengan berkunjung ke kampung-kampung lokal. Keluar dari desa Thuntakan kami berhenti sebentar di warung terdekat untuk memberi air mineral. Cuaca di Bagan yang panas dan lembab membuat kami berdua cepat haus. Jadi memang harus beberapa kali kami melipir ke warung untuk membeli air mineral ketika persediaan menipis. Saat kami menikmati segarnya air melaju melalui kerongkongan kami yang kering, seorang penjual mengajak kami berdua ngobrol, dengan bahasa inggrisnya yang samar-samar, dia bertanya hal-hal yang sederhana seperti “How are you?”, “Where are you going” dsb. Kami sempat menanyakan tempat menjual Longyi yang murah. Longyi adalah kain sarung yang selalu digunakan penduduk lokal Myanmar sehari-hari, terutama ketika beribadah. Pucuk dicinta ulam pun tiba, penjual warung ternyata punya toko yang menjual Longyi dekat dengan Dhammayazaka Pagoda. Kami diantar kesana dan diberikan harga yang murah. Saat di warung lain selembar kain Longyi dijual dengan harga 8-10 USD, di warung ini kami diberikan harga 5 USD saja. Terima kasih Mister.

Longyi ala Myanmar cap gajah duduk

Longyi ala Myanmar cap gajah duduk

Kembali berkeliling dengan motor elektrik. Kami mencoba melewati beberapa jalan yang kami pikir adalah jalan pintas (padahal kami sendiri pun kurang yakin jalan yang kami pilih akan mengarah kemana). Dengan keadaan kota Bagan yang sangat kering, penuh debu dan masih sangat berpasir, harus ekstra hati-hati untuk kamu yang mau melewati jalan pintas. Tidak jarang saya, si Istri dan si Suami hampir jatuh karena motor yang kami gunakan tidak kuat melewati medan dengan pasir yang cukup tebal.

#bekpekberdua keliling Bagan

#bekpekberdua keliling Bagan

Sekarang saya mau bahas sedikit nih seputar Bagan. Tentang candi di sini, kalau sepengamatan saya, si Istri, sebenarnya tipikal candi-candi yang ada di Bagan Archaeological Zone itu 11-12, alias sama. Candi yang memiliki empat pintu dan empat Budha sehingga setiap orang bisa ibadah dari sisi mana saja. Bahas sejarah sedikit, total semua candi yang ada di Bagan pada awal dibangun itu berjumlah lebih dari 10.000 candi, itulah salah satu yang berhasil menjadikannya sebagai warisan dunia atau kerennya, UNESCO World Heritage Site. Namun setelah terjadi beberapa kali gempa, termasuk gempa tahun 2016 lalu dan sudah beberapa kali rekonstruksi, jumlah candi yang ada sekarang hanya tinggal 2200.

Shwezigon Pagoda

Shwezigon Pagoda

Bagan, the city of thousand temples

Bagan, the city of thousand temples

Ananda Temple

Ananda Temple

In Bagan, Temples are all around

In Bagan, Temples are all around

Ada dua Agenda utama kami ketika mengunjungi Bagan, yaitu melihat sunset dan sunrise. Keduanya memiliki pemandangan ribuan candi berpadu dengan taburan debu. Iya debu ya, bukan kabut, Hehehe. Tapi entah kenapa terlihat cantik banget. Salah satu candi yang bisa dinaiki oleh turis untuk melihat sunset dan sunrise itu ada Shwe San Daw Pagoda. Candi ini memiliki tangga untuk menuju lantai atas, tempat dimana orang-orang menunggu matahari terbit dan tenggelam, dan kemudian mengabadikannya. Namun karena tempat yang sangat terkenal ini sangat ramai, beberapa turis mencari dan menemukan beberapa alternatif candi yang dapat dipanjat, tanpa tangga dan tentunya bisa menikmati sunset dan sunrise khas kota Bagan. Menikmati sunrise di kota ini memiliki keunikan tersendiri. Kita bisa melihat matahari terbit dengan pemandangaan ribuan candi dan puluhan balon udara. Sayangnya, saat kami berkunjung balon udara sedang tidak beroperasi jadi sunrise yang kami nikmati hanya berlatar belakang candi dan debu, iya ingat ya debu bukan kabut. Hehe. Tapi sangat menyenangkan sekaliii….

#bekpekberdua dan sunrise di Bagan

#bekpekberdua dan sunrise di Bagan

Menikmati mata hari terbit dan terbenam memang sudah biasa, namun dengan Bagan menjadi luar biasa. Dan terima kasih untuk si Suami yang sudah mewujudkan salah satu #bucketlist saya, Sunrise di Bagan. Tentunya ini bisa menambah daftar negara ASEAN yang sudah berhasil kami kunjungi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *